Oleh: likebaihaqi | Kamis, April 2, 2009

When The Day is Gone (part 2)

Berhasil berarti bertambah tanggungjawab, itulah kalimat yang terpikir manakala presentasi simulasi systemnya menuai hasil dan membuatnya semakin diperhitungkan sebagai salah satu system developer di perusahaannya. Maharani adalah sosok perempuan yang tidak pernah berhenti berusaha, sikapnya jelas, setiap hari semangat melayani bagi kebaikan orang lain adalah motivasinya, setiap hari merasa lebih baik dan tidak ada yang berhak untuk menghalanginya sukses.

Jalanan menuju rumah hari ini kurang bersahabat lantaran iring-iringan kampanye partai politik masih ramai karena sebentar lagi Pemilu 2009 diselenggarakan, sebuah kampanye yang aneh, karena dia melihat ada konvoi motor yang cenderung ugal-ugalan dan membahayakan pengguna jalan lainnya.  Sesampainya di rumah dia disambut oleh mama dan papanya yang selalu menyemangati setiap hari, “bagaimana dengan presentasi kamu hari ini sayang?”, kata mama menyambut sambil mencium pipinya. “Alhamdulillah, setiap hari adalah sukses buatku ma, pa….”, jawabnya.

“Kami bangga dengan usaha kamu Rani, sekarang istirahat dan pergilah mandi lalu kita sama-sama makan malam dan berkumpul di ruang tengah”, kata papanya.

“Ok, aku mandi dulu yaa….”, jawabnya sambil ngeloyor pergi ke kamarnya.

Makan malam adalah moment yang disukainya sejak kecil, karena menurutnya, pada moment ini dia bisa bercerita dan membahas berbagai hal sebelum semuanya pergi tidur. Mama tampak masih sibuk menyiapkan makanannya dari belakang, sesekali dibantu oleh sang kakak, Deasy.

“Ran, aku punya teman cowok, apa kamu mau menemui dia, katanya dia pernah liat kamu waktu jalan-jalan di mal Ambasador waktu itu, dia minta ijinku untuk nemuin kamu”, sergah Deasy kakaknya. “Mbak, aku belum ingin mengganggu konsentrasiku sama yang lain, aku lagi sibuk menyelesaikan tugas kantorku yang harus segera aku garap, suruhlah dia sabar, suatu waktu insyaallah aku temui dia”, jawab Rani gamblang sambil memenuhi piringnya dengan lauk pauk.

“Ran, kamu boleh fokus sama tugas kamu, tapi jangan lupa luangkan waktu untuk kamu sendiri, sosialisasi kamu tidak terbatas di kantorkan?, kami ngga ingin ganggu dengan menambahkan pikiran kamu tentang pernikahan”, sambung mama. “Ma, please aku tau batasku koq, dengan menyadari diriku sendiri, aku tau siapa yang aku butuhkan, aku ngga ingin melemparkan diriku ke lembah penderitaan yang bertopeng manis, aku sadar suatu hari aku pasti membutuhkan lelaki yang mau terus membesarkan hatiku dan mengerti bagaimana menjaga perasaanku…. bukan hanya lelaki yang mencintaiku karena keadaanku yang tampak hari ini”, sanggah Rani.

“Pernikahan adalah investasi ma, semua mencari yang aman untuk masa yang akan datang bukan keadaan hari ini, idealnya sebuah investasi harus menyelamatkan pemiliknya dari keadaan yang paling buruk, papa sebagai pebisnis mengerti betul hal ini”, sambungnya.  “Begini, papa mengerti apa yang menjadi jalan pikiran Rani, dia tidak ingin gagal dalam kehidupan rumahtangganya kelak, so dia sedang cari yang terbaik menurut kehendak dan perasaannya, papa minta jangan lagi mengganggu pikirannya tentang pernikahan, Rani lebih tau kapan harus memulai dan berhenti”, kata papanya yang membuat kakak dan mamanya diam dan kembali makan. Adik laki-lakinya yang sejak tadi sibuk memakan makannya mendengarkan dan ikut berkomentar, “orangtua hanya berkewajiban memberikan pakaian dan rumah bagi anak-anaknya, tapi bukan memaksakan bentuk pemikiran apapun kepada mereka karena kita memiliki keunikan masing-masing dalam merasa dan berkehendak”, kelihatan betul kalau dia sedang mengutip Khalil Gibran.

Elo lagi ngutip novel siapa Fer? koq jadi romantis gitu gaya lo…?”, kata Rani kepada Ferdian adiknya.

Ferdian yang hanya cengar-cengir segera menyelesaikan makan malamnya dan ngeloyor ke ruang tengah lalu nonton program acara favoritnya, Business Art with Mario Teguh di O’Channel.

Usia Rani memang berselisih 3 tahun dari Deasy kakaknya yang 28 tahun dan akan segera menikah bulan depan, tapi sepertinya pikirannya melampaui batas kakaknya, sejak kecil gemar membaca, berdiskusi dengan teman-teman kuliah membuatnya lebih wise dalam bersikap dan menentukan pilihan. Pertama kali mengenal laki-laki di masa kuliah dan setelah itu sedikit trauma karena kejadian yang menurutnya adalah kebodohannya. Saat ini diam dalam menentukan sikap bukan karena perasaan trauma lagi, hanya saja dia mulai berpikir bahwa yang dia butuhkan adalah laki-laki yang siap menemani dia di masa sulitnya yang pasti akan datang pada setiap orang.

Dia sadar bahwa keberuntungan hidup tidak selalu berpihak karena manusia memiliki ego dan nafsu merasa besar dalam kehendaknya, dia membutuhkan sosok laki-laki yang dapat membesarkan hati dan menjaga perasaannya setiap saat, menurutnya itu yang paling sulit untuk dilakukan siapapun, secara pribadi dia pun merasa dituntut untuk bersikap yang sama, hal terpenting dalam sebuah relasi pernikahan adalah menjaga perasaan masing-masing pasangan dari perasaan tersakiti.

Maharani adalah perempuan yang realistis, dia pun ingin sekali berelasi dengan seorang laki-laki, tapi belum ditemukan secara pribadi olehnya. Sesekali dia teringat pada kegagalannya menjalani sebuah hubungan di masa kuliahnya, tapi tidak membuatnya merasa harus mengingat dengan begitu detil, karena dia sadar, semakin memohon maka tampak semakin bodoh yang rendahnya di hadapan laki-laki itu.

Masalalu buatnya lebih dijadikan sebagai peringatan supaya tidak terulang masalahnya di masa kini atau masa datang, dirinya merasa seringkali rindu pada sosok yang didambakan, itu yang membuatnya ingin cepat-cepat bangun dan mempersiapkan diri untuk kedatangannya.

*************************************

Oleh: likebaihaqi | Minggu, Maret 22, 2009

When The Day is Gone (part 1)

Sumringah, enerjik dan selalu humble adalah kesehariannya, sikap dan pembawaannya mencerminkan dirinya smart dan mature. Sikap dan pembawaannya ini membuat orang disekelilingnya merasa familiar dengan dirinya, sapaan kecil tapi hangat kerap dilontarkan pada setiap orang yang memperhatikannya.

Maharani, begitu namanya sering disebut orang, adalah satu-satunya anak perempuan dari keluarga yang berkecukupan tidak saja secara material tapi juga moral. Menikmati pendidikannya sampai dijenjang sarjana di fakultas Computer Science.

Di usianya yang telah melewati seperempat abad ini selalu didesak oleh pertanyaan-pertanyaan yang disandarkan pada persepsi umum bahwa dirinya harus segera menikah, sebuah persepsi ngawur menurutnya.

Hari itu rumahnya ramai oleh keluarga besar yang rutin berkumpul, ada tante, paman dan saudara-saudara dari papa dan mamanya serta anak-anak yang sebaya dengannya yang sudah menggandeng suami atau calon suami untuk untuk diperkenalkan pada keluarga besarnya.

“Menikah, bukan tujuan akhir hidupku, so, kenapa aku harus kehilangan moment penting selain menikah”, katanya menjawab desakan teman-teman di kantornya dan keluarga besarnya yang kerap berkumpul beberapa bulan sekali. “Aku sadar bahwa menikah akan menentramkan hati dan perasaanku akan sesuatu, tapi bukan berarti aku harus menikah dengan siapapun kan? secara, Belanda masih jauh”, jawabnya berseloroh.

“Kami sebagai orang tua tidak memaksa kamu untuk cepat-cepat menikah Rani, kami sadar koq kalau keputusannya tetap ada pada kamu, kami bukan orangtua di jaman Siti Nurbaya”, jawab mamanya.

Menurutnya, memutuskan menikah berarti siap berbagi dan berempati terhadap segala perasaan. Dia merasa siap berbagi dengan siapapun, tapi apakah siapapun itu sanggup berbagi dengan dirinya, dia hanya tidak ingin keputusannya untuk menikah ternyata menjadi hal yang salah dan menakutkan seumur hidupnya karena menikahi laki-laki yang salah.

“Rani, jauh di masa kami menikah mudah karena kami harus menuruti kemauan orangtua kami, di masa kini dimana media improvisasi dan berbagi menjadi lebih luas dan kompleks ternyata mencari orang yang tepat sulit, tante dan keluarga kamu mendukung pencarian kamu terhadap sosok yang tepat itu, standarnya bukan lagi semata-mata benar tapi juga baik, karena benar menurut kami pasti tidak selalu benar menurut kamu”, kata tantenya yang mulai ikut nimbrung.

“Ya, aku merasa aku pantas dapat orang yang baik, tidak sekedar benar. Aku percaya Tuhan sedang mempersiapkan sosok itu buatku, dengan demikian aku tetap dalam melanjutkan hidupku dengan aktifitas rutin yang membuatku terus hidup tanpa merasa perlu khawatir”, jawabnya.

“Aku hanya minta kepada semua untuk menghormati keputusanku untuk menikah dengan siapapun, karena cuma aku dan Tuhan yang mengerti keputusanku”, lanjutnya sambil mempersilahkan makan keluarga besarnya yang sedari tadi hanya ngobrol di meja makan, “makannya mulai dingin tuh, mendingan kita makan yuk”, ajaknya.

*************************

Seperti biasa Senin pagi adalah hal yang dia nanti untuk mulai menunjukkan kebolehannya dalam bekerja dan bersosialisasi, harinya dimulai oleh rutinitas sebagai orang yang beragama. Setelah selesai berdandan sambil mendengarkan musik R&B dari koleksi CD nya yang bejibun dia sarapan bersama dengan orangtuanya, “Ma, hari ini aku pulang agak terlambat sepertinya, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan karena besok aku harus presentasi dengan klien kantorku”, sambil menyiapkan roti dan susu sarapannya. “Proyek apa yang kamu sedang siapkan Ran?” kata papanya.

“Masih tentang security management system pa”, jawabnya sambil makan.

Maharani adalah sosok pekerja keras, dan tidak ingin bergabung di perusahaan papanya, menurutnya, kerja dengan papanya tidak terlalu menantang. Dia memang sosok yang menyukai tantangan.

“I was done….., i have to go now…, see u later my dady and mom, salamualaikum…”, katanya sambil mencium tangan orangtuanya, sebuah tradisi yang selalu diajarkan oleh orangtuanya.

Setelah berjibaku dengan kemacetan ibukota yang menjadi sarapan keduanya, akhirnya Maharani tiba di kantornya di bilangan Kuningan, tepatnya di Mega Kuningan, sambil terus menyapa setiap orang yang dilaluinya mulai dari penjaga kantor sampai teman-temannya. Maharani begitu antusias hari ini, tampaknya itu menjadi kebiasaannya setiap hari karena dia menganggap setiap hari dalam hidupnya adalah proyek yang harus diselesaikan.

“Ran, gue punya temen cowok nih, boleh ga gue kenalin ke elo?” kata Nadine yang mendekatinya. “Pagi-pagi dah ngomongin cowok? ngga banget deh. Hari ini gue harus siapin beberapa berkas dan simulasi system yang harus gue presetasikan besok, tentang cowok itu kita omongin sambil makan siang ok!” balas Rani.

Dia sengaja mendekorasi ruang kerjanya lain dari kebiasaan teman-temannya, hal itu dilakukannya agar tidak cepat merasa bosan. Ruang kerjanya begitu menarik dengan pernak pernik kata motivasi. Pekerjannya dimulai dari membuka email, lalu membaca daily todo list yang sengaja dibuat agar tidak lupa.

Keseriusannya bekerja membuatnya lupa kalau jam di mejanya sudah menunjukkan angka 12 lebih 15 menit. “Ran, gue tunggu di kantin ya, bahas yang tadi”, kata Nadine dari pintu ruangan Rani.

Rani mendatangi kantinya, rupanya sudah ramai orang makan siang, tumben tidak ada yang ingin makan siang di Ambasador pikirnya. Setelah memesan makanannya Rani duduk di hadapan Nadine. “Elo biasanya makan di Ambasador Nad?” goda Rani. “Panas banget mau keluar Ran, gue mau bahas cerita gue tadi pagi, gimana elo berminat? namanya Indra, sejauh yang gue kenal dia baik dan tidak punya catatan kejahatan” jawab Nadine.

“Pada prinsipnya gue terbuka sama apa dan siapapun, tapi ngga untuk saat ini Nad, secara elo tau gue lagi nggarap proyek baru perusahaan kita, gue paham koq maksud elo pasti baik”, jawab Rani sambil membesarkan hatinya Nadine supaya tidak tersinggung dengan penolakannya.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori