Jakarta, Ibukota yang Tidak Siap

Lalu lintas ibukota pagi dan sore hari selalu disuguhi oleh keadaan lalu lintas yang tidak bergerak. di sana sini tampak kemacetan mengisi setiap ruas jalan ibukota, apa yang salah? siapa yang salah?

Banyak pihak memprediksi, ibukota akan berhenti total bila pemerintah tidak segera mengambil langkah-langkah konkret dan strategis menangani kemacetan ibukota.

Pemerintah menilai perlunya pembatasan kendaraan roda dua atau sepeda motor, membatasi kendaraan dari luar Jakarta, dan mendorong pemanfaatan busway secara maksimal.

Sepeda motor, merupakan cara murah bagi sebagian orang untuk mengatasi kemacetan yang makin ruwet di ibukota ini. Memiliki kendaraan roda empat saat ini adalah kebanggaan yang mencitrakan kesuksesan seseorang. Pemiliknya betah menikmati kemacetan yang memang sudah menjadi realitas hidup di kota besar seperti ibukota demi sebuah gengsi, apa iya?

Sepeda motor dibatasi, itu artinya orang disuruh beli motor setelah itu dilarang jalan. Kalau kita mau sedikit jujur, kemacetan di jalan tol bukan akibat sepeda motor yang sudah boleh masuk tol, kemacetan di beberapa ruas seperti pertigaan Jagakarsa dan sepanjang jalan Raya Bogor (pertigaan TMII arah Cililitan) kerap dimacetkan oleh truk pengangkut sampah yang jam operasinya sama dengan jam kerja orang kantoran. Apakah lagi-lagi sepeda motor yang harus disalahkan.

Wacana baru yang ingin menaikan tarif parkir baik pinggir jalan atau gedung dan pusat perbelanjaan, harusnya terlebih dulu menyiapkan infrastruktur bila orang bawa mobil mulai berkurang, apakah busway saat ini sudah memenuhi syarat untuk dijadikan tulang punggung mass transportation. Wacana ini terinspirasi oleh negara tetangga seperti Singapura yang lebih dulu menerapkan, dan negara-negara Eropa yang mencapai jutaan rupiah perbulan (seperti diberitakan VIVAnews.com edisi Sabtu 13 Nopember 2010).

Buat penduduk Singapura atau negara-negara Eropa bukan perkara sulit dan mahal, toh pendapatan yang mereka terima tetap lebih tinggi, nah kalau hal tersebut diberlakukan di Indonesia, apakah tidak akan menambah kesan pemerintah baik Jakarta maupun Pusat tidak mau pusing urusan macet yang makin sulit terurai, akhirnya solusi yang dapat diberikan adalah tambah beban masyarakat Jakarta atau Indonesia kedepannya.

Seharusnya yang patut ditiru dari Singapura atau negara-negara Eropa tersebut adalah semangat dan action nya yang tidak pernah istirahat dalam meminimalisir kesemrawutan lalulintas.

Pertumbuhan sepeda motor dan mobil adalah sebuah keniscayaan pada sebuah negara berkembang, dan industri bangga karena telah memproduksi sekian puluh ribu atau sekian ratus ribu unit dan jadi trensetter bagi sesamanya, pemerintah sebaiknya mengantisipasi hal ini sejak sepuluh tahun lalu, bukan sekarang baru bereaksi. Pemerintah harus aktif memikirkan masa depan negeri ini jangan jadi reaktif terhadap segala realitas.

Pemerintah harusnya khawatir terhadap perubahan prilaku masyarakat karena selalu berada dalam kondisi tidak berdaya hingga kemudian anarkis terhadap sesama pengguna jalan dalam melawan macet,  perubahan prilaku mengarah pada perubahan budaya.

Dialektika Cinta (habis)

lebih dari setahun pemuda itu bersahabat dengan Ifa, yang menurutnya wanita ideal bagi subyektifitasnya. Malam itu mama, pemuda tersebut dan adikanya, Maya, tampak asyik berbicang di ruang tamu setelah makan malamnya, “Ma, aku pernah membicarakan hubunganku dengan Ifa, aku pernah mengajaknya untuk berkomitmen, dan dia setuju bahwa kami hanya akan menghabiskan energi masing-masing bila terus seperti ini”, kata pemuda itu, Pemmuda itu tampaknya getting moment dengan Ifa.

“Kamu harus tau kalau kamu berdua pernah menyetujui komitmen yang ingin dibangun, maka kamu harus siap dengan segala macam kondisi mulai dari hal sepele sampai paling serius buat berdua, perempuan lebih ingin dipeluk ketimbang disetubuhi, dia ingin ada orang yang selalu menjaga dan mencintainya setiap waktu”, jawab mama. “Satu lagi, perempuan selalu ingin dimengerti, itu egoisnya,” sambung Maya.

“Mencintai dan memilih hidup berkomitmen berarti bersedia mengikatkan diri pada janji hidup bersama, aku berharap komitmen ini akan sebaik usahaku, dan Tuhan tidak diam dengan usahaku kan Ma”, kata pemuda itu lagi. “Idealnya komitmen tidak membatasi gerak masing-masing, kalau kamu menikahinya, kamu hanya mendapatkan separuh dari dirinya, yang separuh lagi adalah miliknya yang bebas, menikah berarti tidak membatasi dan menjadikan perempuan sebagai subordinate laki-laki, tapi menjadikan mitra sejajar dalam melanjutkan prosesi kehidupan yang baru”, mamanya berpanjang lebar.

*******************************

Rencana pemuda itu tidak main-main, dia minta kepada Ifa untuk menerima kedatanganya bersama mama dan adiknya. Hari yang dipersiapkan mereka berdua untuk mempertemukan keluarga tiba.

“Aku tidak perlu bersedih apalagi menangis pada kehidupan yang belum berpihak, aku cuma harus mengusahakan keberpihakannya,  karna hidup akan menjadi sebagaimana kita menginginkannya” kata pemuda itu mengomentari semua pertanyaan.  “Ada hal yang perlu kamu ketahui tentang Ifa, dia tidak sebaik keadaannya yang kamu pikirkan, apa Ifa cerita perihal itu?”, tanya Ibunya Ifa. “Bu, seburuk apapun adanya, aku meyakininya sebagai pemberian Tuhan bagi kehidupan yang lebih baik kelak, jangan beratkan aku dengan masalalu dan keadaannya, memutuskan untuk menikah adalah buah pikir panjangku selama ini, setiap orang berhak punya masalalu dan keadaan yang sama sekali beda bagi kebanyakan orang. Aku ingin menjadi pemungkin baginya mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan menikah….”, jawab pemuda itu.

“Kalau begitu tidak ada yang akan menghalangimu menikah, kami semua pada prinsipnya mendukung keputusan yang kalian buat,” kata mama pada pemuda itu dan Ifa. Orangtua Ifa senang sekaligus terharu saat Ifa dipinang seorang laki-laki yang menurut cerita Ifa, dia telah banyak melewati bagian kehidupan yang mendewasakan dan menuntutnya berubah menjadi sosok yang tangguh, tidak cengeng dan bersedia melayani bagi kebaikan orang lain. Masin g-masing keluarga setuju dan merundingkan hari pernikahan mereka yang menurut hitung-hitungan orang Jawa akan diselenggarakan tidak lama lagi. Maklum, mereka semua berasal dari Jawaa dan masih teguh menjalankan tradisinya.

*******************************

Hari yang dinantinya telah tiba, mereka duduk berdua tampak berjauhan di depan pamannya Ifa, untuk kemudian melanjutkan akad nikah bagi mereka. Semua prosesi akadnya telah dilalui sejak pagi hingga siang hari, tampak keluarga besar masing-masing pihak berdatangan dan memberikan selamat. Nadia yang datang dari jauh mendapat sambutan hangat sang mama dan pemuda itu, mereka terlibat pembicaraan hangat di keramaian tamu undangan akad.

“Mas, jadilah yang terbaik buat Ifa, ketika dia memutuskan menerima kamu, di hatinya ada sejuta harap kamu akan menjadi yang terbaik baik kehidupannya”, kata Nadia di hadapan kedua pasangan yang baru saja selesai akadnya. “Maaf saya tidak bisa menunggu sampai ke acara resepsinya, karena masih memiliki beberapa janji dengan pelanggan, saya berdoa buat kebaikan kamu berdua ya mas”, ucapnya sambil pamit kepada keluarga.

Sepulang Nadia, pemuda itu kaget melihat seorang tamu laki-laki yang tidak asing menurutnya tampak asyik berbincang dengan mamanya, bagaimana mungkin dia bisa tahu kalau dirinya menikah, pikir pemuda itu. Tampak tamu itu mendekati sang mempelai dan menyalaminya. “Selamat ya…, mamamu yang mengundang kami kemari”, sambil menunjukkan istrinya yang sudah sama rentanya, “Mas, ini adalah kakek mu, dia selalu memperhatikan kamu dan menceritakan kedatangan kamu kerumahnya waktu kamu terluka dulu, menurutnya cara itu digunakan sebagai alat untuk mendidik kamu menjadi pribadi yang tangguh karena kamu laki-laki”, kata mama menimpali.

“Jadi, selama ini aku diskusi sama kakek ku sendiri? ya Tuhan…., maafkan aku ya kek, aku pikir kakek ada di luar kota ini, dan aku terlalu sombong untuk mencari dan bersilaturahmi”, pemuda itu langsung memeluk sang kakek dan nenek. Suasana menjadi sangat sentimentil karena pertemuan yang tidak disangka justru terjadi di hari bahagianya.

*******************************

Sehari setelah prosesi pernikahannya, pemuda itu tampak berseri dan menghampiri sang istri sambil bertanya, “apa yang sedang kamu pikirkan Fa? sejak tadi termenung sendirian seperti mengkhawatirkan sesuatu”. “Aku ngga papa koq mas, aku cuma masih terasa bermimpi sampai hari ini, dinikahi oleh seorang laki-laki yang telah menjalani hidupnya dengan berbagai peran, aku bersyukur atas apa yang Tuhan berikan saat ini, aku tidak ingin ini berakhir”, airmata istrinya tampak mengalir perlahan dari kelopak matanya.

Suaminya memeluk dan mencium keningnya, “Sayang, aku akan selalu ada di sampingmu, setia menjagamu dan menemani hidupmu, kamu memiliki hak yang sama untuk saling mengingatkan, aku merasa nyaman bila berdekatan, semoga perasaan ini tidak berakhir, aku bukan siapa-siapa tanpamu, kita akan saling mencoba mengerti yang lain karena kita sekali-sekali tidak pernah menjadi satu, kita memiliki ego yang sama sekali berbeda, setiap hari kita akan saling meraba suasana hati masing-masing”. katanya.

Suatu malam pemuda itu tidur begitu nyenyak sehingga mengundang sang istri untuk membelai dan mencium keningnya, sambil berkata di hatinya, tetaplah ada bersamaku mas, setelah pertemuan kita akan berhadapan dengan perpisahan.

*******************************

Seperti biasa pagi itu Ifa membangunkan suaminya untuk shalat subuh, “mas, bangun…yuk, kita shalat subuh dulu”, beberapa kali dipanggilnya sang suami tidak ada jawaban. Ifa menciumi suaminya dan merasa heran karena seleuruh tubuhnya terasa dingin, “Mas….jangan buat aku takut….”, pinta Ifa. Dipanggilnya sang mama dan Maya yang sedang menginap dirumah barunya itu, “Ma, kenapa mas tidak bangun dan badannya terasa dingin.

“Mba Ifa, mas sepertinya telah meninggalkan kita semua sejak semalam,” kata Maya sambil berkaca-kaca matanya, mama memeluk Ifa dengan erat dan membisikan sesuatu,  “selama ini selalu ingin dekat dengan kamu dan memberikan kamu sesuatu yang pantas kamu dapatkan, hari ini dia telah meninggalkan kita, kamu harus sabar yaa sayang”.

“Mas kenapa kamu biarkan aku sendirian melanjutkan hidup ini? baru saja aku merasa lebih baik setelah pernikahan kita”, bisik tangis Ifa ditelinga suaminya sambil menciumnya.

Pagi itu rumah mulai padat oleh handai taulan yang hendak berta’ziah, sambil sesekali saling berbisik pada yang lain, kasihan ya istrinya baru menikah sudah ditinggalkan. Sang kakek mendekati Ifa “semua peran telah dijalaninya, dia orang yang kelelahan setelah mencari sesuatu. Dia mulai belajar mendedikasin hidupnya buat masalalunya. Besarkan hatimu ya nak, Tuhan tida pernah menyia-nyiakan hambanya sendirian di dunia”. “Terimakasih kek”, sahut Ifa.

Ibunya Ifa pun tampak sedih dan memeluk anak perempuan satu-satunya, “kematian bukan akhir segalanya Fa, Tuhan sedang merencanakan sesuatu buat kita semua”. “ya bu, aku hanya perlu waktu untuk bisa tenang’, katanya sambil menangis.

Ya, kematian bukan akhir segalanya dan Ifa hanya harus berbangga karena pernah menjadi bagian dari seorang laki-laki yang terus belajar mengerti dan meredefinisi kehidupannya, dari sosok yang hopeless sampai menjadi orang yang tangguh dalam mendedikasikan hidupnya.

Ifa kembali menjalani kehidupan bersama ibunya di rumah besar yang ditinggalkan oleh suaminya, sesekali Maya dan mamanya datang menengok dan menanyakan kabar Ifa dan kandungannya. Ifa bekerja diperusahaan yang dibangun suami dan teman-temannya. Ia mengandung seorang anak laki-laki menurut diagnosa USG. Dia berharap kelak anaknya seperti papanya dalam bersikap. Dia ingin sekali menamai anaknya seperti nama suaminya.

Protected by Copyscape Plagiarism Check Software

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.