Oleh: likebaihaqi | Jumat, Maret 28, 2008

Hidup itu Indah…?

homeless.jpg

Keadaan sekarang memang serba sulit, cari kerja susah (buat yang ga punya skill), yang kerja pun gajinya ga pernah cukup memenuhi keinginan. Gaji kecil, transportasi mahal, sampai untuk urusan perut juga mahal.

Hidup yang semakin sulit bikin orang jadi rada sensitif, di jalan bersenggolan baik di motor atau mobil langsung naik pitam. Tangan jadi terasa ringan dan mulut terasa lebar untuk memaki.

Sinetron sebagian mengajarkan mimpi yang nyaris mustahil untuk dijangkau, acara kuis yang menjanjikan jutaan hingga milyaran rupiah seadng jadi tren, yang tidak mampu menjangkau hanya bisa gigit jari sambil berpikir gimana kalau saya yang duduk di sana? “Cukup lah sekian juta aja….” Saat ini dunia kelihatannya sedang berpihak pada kaum the have’s. Sementara kaum papa the haven’t semakin terjepit ditengah arus globalisasi yang terus menggelinding.

Itulah sebagian kecil pemandangan dari keadaan faktual, dimana harga diri, martabat dan kewibawaan direduksi menjadi benda-benda material. Seseorang baru punya harga diri, martabat dan kewibawaab kalau dia bersekolah di sekolah atau kampus ternama, punya mobil model terbaru dan punya materi yang bisa digunakan sebagai topeng dalam bergaul.

Memang untuk dapat terlihat cerdas kita membutuhkan instrumen yang mencitrakan kita sukses, cerdas dan mapan. Kalau para the have’s dapat memiliki lebih dari yang kita miliki, itu karena dia pandai memilih instrumen tadi. Instrumen tersebut bukan melulu materi yang berlimpah dan serba ada, tapi jadikanlah seakan-akan ada. Hari gini kepala kita ga boleh kosong (bodoh), jaman sekarang kita dituntut lebih proaktif bukan oranga yang baru bereaksi kalau ada stimulus dari luar, ciptakan stimulus dari dalam, bangun kegelisahan artifisial supaya kita tetap terjaga dan ga tidur melulu, lalu bangun sambil mengumpat kenyamanan orang lain.

Perhatikan bahwa dunia memberi tempat yang luas untuk orang-orang yang mau berusaha secara berkesinambungan, hidup serba kurang bukan alasan utnuk berhenti berpikir dan usaha.

Hidup itu harus cerdas, ikhlas dan sabar. “Sabar itu proses bukan akibat”. Keadaan memang sulit, cari celahnya dimana kita bisa eksis dan unuk gigi atas kemampuan kita. Hidup bukan untk ditangisi apalagi diratapi. Pendapatan memang kecil, so, hitung lagi berapa kebutuhan? bukan keinginan. Agama manapun mengajarkan supaya kita cerdas dalam menjalani hidup, ikhlas, dan sabar.

Boleh sekali-sekali lihat rumput tetangga, tapi jangan kelamaan, nanti belekan…
Bedanya kita dengan kaum the have’s cuma kadar kecerdasan, keikhlasan, dan kesabaran. Hidup dah sulit, jangan mau dipersulit. Besar hati dengan segala keadaan merupakan cara terbaik menjalani hidup tanpa stress dan mumet tujuh keliling.

Setiap orang punya masalah, jangan merasa punya masalah sendiri…


Beri tanggapan

Your response:

Kategori