Akhirnya BBM naik juga…
Entah apa yang ada dalam benak pemerintah sampai hati menaikan harga bahan bakar minyak, “subsidi hanya dinikmati sebagian besar orang kaya”, hanya itu justifikasi yang selalu didengungkan, benarkah subsidi hanya dinikmati orang kaya?
Penulis beranggapan, justifikasi tersebut adalah mekanisme pertahanan ego pemerintah alih-alih menyelamatkan muka sendiri dari ketidakmampuan untuk mengontrol distribusi BBM di tingkat pengecer (SPBU).
Kenaikan harga minyak dunia dianggap paling bertanggungjawab terhadap kebijakan pemerintah, padahal banyak dialog di televisi yang mengatakan menaikan BBM dalam negeri bukan alasan untuk mengikuti irama harga minyak dunia.
Mayoritas (orang kecil) menolak kenaikan BBM, karena mereka akan di hadapkan pada fenomena mengerikan yaitu melambungnya semua kebutuhan pokok dan subsider. Pemerintah tidak bisa mencegah efek paling mengerikan dari kenaikan BBM. Lagi-lagi masyarakat miskin jadi korban kebijakan pemerintah yang pada saat kampanye selalu di junjung dan “ditemani”. Harga bahan pokok yang melambung karena alasan biaya transportasi naik, transportasi naik karena BBM naik, bagaimana dengan sektor industri yang mengkonsumsi BBM dalam jumlah besar? Karyawan menuntut gaji naik dari perusahaan tempatnya bekerja. Industri kewalahan dengan HPP yang fluktuatif. Tidak salah kalau kemudia buruh / karyawan menuntut kenaikan gaji. Tapi tuntutan mereka selalu di hadapkan pada fenomena yang sama mengerikannya yaitu PHK Massal.
Benarkan mimpi para pembesar negeri ini tentang kemakmuran dan kesejahteraan di negeri ini? Naiknya BBM membangun komunitas baru, masyarakat baru miskin. Tenaga produktif masih belum bisa diserap oleh industri yang ada. Pemerintah tidak bisa menyiapkan lapangan kerja bagi pengangguran. Akhirnya pemerintah mengiming-imingi mereka dengan subsidi Bantuan Langsung Tunai (BLT) konsepnya begitu primitif–dan ditolak oleh beberapa kepala daerah setermpat–masyarakat diberi uang supaya tidak bergejolak. Apakah tidak sebaiknya pemerintah mengalokasi dana BLT tersebut untuk proyek padat karya yang berkesinambungan daripada sekedar “menidurkan” sejenak masyarakat miskin, setelah itu bangun dan bergejolak.
Sekarang pemerintah sedang sibuk menjustifikasi kenaikan BBM beserta eksesnya adalah suatu kepastian dalam menuju negeri yang makmur dan sejahtera. Sementara gejolak yang dimotori mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi tetap marak, dan berujung bentrok dengan aparat kepolisian.
Kasihan masyarakat miskin negeri ini hanya jadi akessoris pemilu….