***************
Setelah bosan dengan apa yang dikatakan pak tua itu, sang pemuda berlalu begitu saja.
Di tengah jalan dia bertemu dengan temannya, Aisyah yang baru saja menikah, hal itu membuatnya semakin tersiksa dalam hati, “hi, dari mana mas?” kata temannya. “Dari tempat seseorang yang membuat luka ku makin menganga…”jawabnya ketus. “Kurasakan luka yang makin dalam saat bertemua Aisyah yang sudah bersuami”, keluhnya dalam hati.
“Salamualaikum…” katanya sambil memasuki rumahnya, sambil berlalu didepan mama dan adik perempuannya. Dirinya mulai gelisah mencari lagu sentimentil kesukaannya, “dimana sih…?” katanya membatin.
“Sudahkah kamu sholat nak?, kata mamanya menyapa. “belum….” kata pemuda itu. “Hari ini aku begitu kecewa ma, malam ku semalam begitu panjang, membuat hariku semakin buruk, kapan dunia akan kiamat ma atau maukah mama mintakan kepada Tuhan untuk kematianku?” sambil berteriak, “apa yang membuatmu begitu kecewa dan putus asa nak?” kata mamanya membalas.
“Maria meninggalkan diriku ma…., dia menikah dengan lelaki yang ditawarkan oleh orangtuanya”, sambil menangis dan menutupi wajah dengan telapak tangannya. ” Dunia seakan kiamat…!!! Tuhan begitu tega terhadap perasaan ini ma, apakah Dia tidak melihat kalau aku begitu membutuhkannya. Aku mencintai Maria ma….” sambil tetap menangis.
“Nak, bukankah kamu sudah pernah mengalami hal ini saat dulu kamu ditinggal oleh Novi, kamu sedih hari itu, tapi tidak putus asa untuk meacri ganti”, kata mamanya. “Itu lain ma, aku seperti menemukan bagian dari diriku yang lain pada Maria, aku merindukan sosoknya yang menggantikan figur Novi membuatku semakin mencintainya, aku rela berkorban apasaja, aku selalu menunjukkan cintaku dengan kerja nyata, cintaku tulus ma….” kata pemuda itu.
“Setiap orang pernah ditinggalkan nak, oleh pasangan hidupnya, saat itu dunia begitu gelap bikin kita semua ga tau harus kemana dan gimana. Kamu pernah lihat mama ditinggalkan, adikmu juga pernah ditinggalkan, semua orang pernah ditinggalkan, bukan sekali bahkan setiap kali, jangan kamu racuni hidup kamu dengan kekecewaan karena luka itu. Stay cool please”, kata mamanya menenangkan.
“Aku menuruti kata mama ketika mulai jatuh cinta pada Maria, tapi sekarang dia meninggalkanku sendirian dalam luka, bukankah semua ini kehendak Tuhan, cintaku karena Tuhan yang menjadikan, Maria juga diberikan Tuhan ke hadapanku. Kenapa sekarang Dia mengambilnya ma?” katanya sambil terus menangis. “Lebih baik kamu sholat dulu setelah itu makan malam lalu kita bahas lagi lukamu” kata mamanya.
“Aku akan berhenti bersujud di hadapan Nya, Dia membuatku terluka, aku marah sekali pada Nya”, katanya sambil berteriak.
“Ma, ada apa?” kata Maya adik pemuda itu.
“Tidak ada apa-apa sayang, yuk kita bicara di luar aja, biarkan kakak mu yang sedang ingin sendirian”, kata mamanya seraya menggandeng tangan Maya. Malam itu tampaknya mulai gerimis, terdengar rintik dari atap rumah. Angin yang menyertai menyapu rumah yang menambah dingin udara malam itu.
“Kakakmu sedang sedih karena Maria menikah dengan lelaki pilihan mamanya, sekarang semua dirasa sia-sia olehnya. Kakakmu tidak pernah menyiapkan dirinya pada keadaan seperti ini, dan dia belum bisa memaafkan keadaan ini”, kata sang mama pada Maya. “Aapa yang membuat mamanya Maria ingin menikahkan dia dengan lelaki lain ? bukankah mamanya tau kalau dia sedang menjalani hubungan dengan kakak? ” kilah Maya.
“Mama pikir Maria sudah cukup untuk segera menikah, walaupun usia menikah tidak pernah ada batasnya, mungkin saja mamanya tidak melihat kesungguhan dari kakakmu. Mama mana yang ingin melihat anaknya melajang begitu lama, makhluk yang namanya mama terikat oleh opini yang berkembang dan dijadikan norma oleh masyarakat” kata mama
“Kakakmu tidak pernah menceritakan bagaimana dia menjalani hubungan dengan Maria, kecuali dulu pada saat dia meminta mama memberikan pendapat bagaimana cara mendekati perempuan itu” katanya lagi.
“Aku bisa merasakan bagaimana hancurnya kakak ma, aku pernah mengalami itu dan aku tidak menangis kecuali di hati, kasihan melihat kakak merasa hopless dan makin kasar dan cuek pada kehidupannya”, sambung Maya.
“Sudah malam May, kamu tidurlah, bukankah besok kamu ada kuliah pagi, kita hanya bisa mendoakan semoga kakakmu segera memaafkan keadaannya” kata mama, “ok deh ma…. aku tidur duluan yaa, night ma”, kata Maya sambil menuju kamarnya.
***************
ada kelanjutannya?
Oleh: bakuljangan on Selasa, Juli 1, 2008
at 8:56 am
bgs ceritanya
Oleh: yufna on Rabu, Juli 2, 2008
at 7:37 am
si kakak kok kasar kok cuek ya… harusnya biasa aja ya… rileks gitu ya…. hiks…hiks…
btw… kenal ama si pink ga om?.. dia mo bagi domain tuh… ayo ikutan…ya..itung2 meriahin ultahnya tuh ank… ayo om…
Oleh: masenchipz on Rabu, Juli 2, 2008
at 11:42 am