Oleh: likebaihaqi | Rabu, Juli 2, 2008

Dialektika Cinta (part 3)

************************

Pagi itu langit tampak tetap mendung seperti kemarin, kicau burung seakan memanggil-manggil teman-temannya untuk bersiap terbang berkelanan mencari makan atau jodoh. Di dalam rumah tampak Maya yang sedang siap-siap berangkat ke kampus, kuliahnya di fakultas kedokteran tinggal 1 semester lagi, sambil berharap kelak dia bisa membalas apa yang diberikan sang mama sejak kecil.

Mamanya masih terlihat sibuk menyiapkan sarapan buat para buah hatinya yang sudah besar-besar, terbesit harapan sang mama akan kebahagian mereka kelak. “Pagi ma….”, sapa pemuda itu sambil duduk di kursi makan. “Pagi sayang, kamu berangkat lebih pagi? tumben…” kata mama.

Pagi itu semua terasa beku, pemuda itu hanya makan sambil diam dan membiarkan adiknya mengobrol sepanjang sarapan dengan mamanya.

“Aku berangkat ya ma, nanti siang aku pulang jam 3 an, ada rencana mau ke perpustakaan dulu, cari bahan buat karya ilmiahku nanti”, kata Maya sambil mencium pipi mamanya. “Hati-hati ya sayang, semoga hari mu secerah harapanmu”, kata mama mendoakan.

“Kamu lihat adikmu yang selalu ceria dan bersemangat? apa kamu tidak iri pada keadaannya?” mamanya bertanya, “Aku merasa sia-sia semua ma, mungkin nanti malam aku pulang larut, aku mau menenangkan diri di luar”, menjawab pertanyaan mama. “Menenangkan diri bagaimana?” mama balik bertanya, “sudahlah jangan terus mengaturku, aku sudah dewasa tau apa yang harus aku lakukan” jawabnya dengan nada tinggi. Semua tentang cinta bullshit, aku tidak percaya sama makhluk yang namanya mama, mama atau mamanya Maria sama saja”, tambahnya sambil berteriak.

“Lho kenapa kamu jadi kasar sama mama?” kata mama sambil heran. “Aku benci pada semua orang….!!” teriaknya. “apa yang membuatmu benci pada semua orang, apa mereka membenci atau bersalah padamu?”, kata sang mama tetap kalem, tapi pemuda itu tidak menjawab bisa jadi karena bingung kenapa dia harus benci, sesuatu yang dia tidak tau alasannya. Pemuda itu membanting pintu kamar sambil keluar membawa tas dan bersiap berangkat kerja, dia pergi ke garasi dan buru-buru masuk ke mobil dan menjalankannya sambil mengklakson untuk memberi tanda pada mamanya kalau dia sudah pergi.

Hatinya mengarahkan dia untuk pergi ke arah pantai yang ada berada jauh di pinggir kota, selesai memarkirkan mobilnya lelaki itu berlari menuju laut dan berteriak “Sumpah aku membenci mu Tuhan, Kau hanya mempermainkan kami dalam kesusahan semua tentang Mu bullshit, katanya terus memaki.

Maria masih mengisi rongga kepalanya, dia masih memasukan Maria pada ingatannya. Pemuda itu mengambil sebungkus rokok dalam bajunya, dihisapnya dalam-salam sambil batuk beberapa saat. Apa aku harus mati supaya bisa meninggalkan kenangan semua ini di sini. Mati, yang mati mungkin cara paling cepat meninggalkan dunia yang tidak berpihak padanya. Diraihnya bir kaleng yang sudah dia siapkan untuk diminum, ditenggaknya sedikit sambil mesem karena terasa pahit di lidahnya. Benarkan hidup begitu kejam sehingga harus dilalui seperti ini, pikirnya.

Matanya jauh memandang perahu nelayan yang ada di tengah laut, dan burung-burung yang ada di atas laut terasa mengejek pemuda itu. Dihisapnya lagi rokok yang dia jepit di antara jarinya, tidak terasa hari sudah siang, perutnya sudah mulai lapar tapi masih malas untuk makan. “persetan dengan semuanya, aku tidak pecaya lagi sama perempuan!!!” teriaknya. Ingin sekali dia melihat Maria lagi, tapi apakah itu mungkin, apalagi bulan depan adalah pernikahan Maria dengan lelaki pilihan mamanya. Dia ingin sekali berbicara tentang hatinya, ingin sekali memalingkan Maria dari perjodohan yang dianggap salah dan tidak adil ini. Kenapa sampai begitu dalam perasaan pemuda itu pada Maria, ternyata Maria bukan sekedar gadis yang cantik, tapi juga menggantikan figur yang selama ini hilang dari hidup pemuda itu.

Matahari semakin menyingsing ke barat, pertanda sebentar lagi gelap dan malam menjelang. Udara masih terasa sejuk sejak karena pagi mendung, musim ini seharusnya masih kemarau tapi mungkin akibat global warming. Bumi jadi semakin panas dan mempercepat penguapan air laut.

Pikirannya makin kacau saat pengaruh alkohol mulai meracuni dirinya, berjalan terhuyung ke kanan dan kiri sebagaimana layaknya orang mabuk. Tangannya menyulut rokok lagi, sambil berteriak “bagaimana Tuhan akan disebut Tuhan bila dia suka mempermainkan nasib hambanya”. Mabuknya mulai membuatnya semakin meracau yang tidak-tidak, mulutnya mengeluarkan teriakan memaki, toh tidak ada yang mendengar karena berkejaran dengan gemuruh ombak yang besar.

Jam di tangannya menunjukkan pukul 10.00 malam, tapi dia masih berjalan terhuyung-huyung, sambil mencoba masuk kedalam mobilnya beberapa kali dia jatuh ke tanah berpasir putih itu. Dia memaksa menjalankan mobilnya dan keluar dari pantai.

Mabuknya menuntun dia untuk ngebut dan menginjak gas dalam-dalam, sampai di persimpangan jalan yang cukup gelap tapi ramai orang lalu-lalang, dia berhenti dan memperhatikan semua yang ada di sana. Setelah jalan tampak sepi dipacu lagi mobilnya, tidak lama kemudian sampai dia di pintu tol, setelah membayar dia langsung tancap gas.

Keadaan malam begitu gelap dan dingin, saat melaju di atas kecepatan 140/jam, tiba-tiba duaarrrrr…… ban mobil depan sebelah kanan pecah membuatnya berputar di jalan yang masih ramai suara klakson mobil-mobil mulai meramaikan insiden tersebut. Sebuah mobil toyota kijang menghantam dari belakang dan akhirnya membuat mobil sang pemuda tadi terbalik dan terguling di atas jalan tol.

**********

Semua terasa hening, sepi dan dingin…

**********

Mobil ambulans memasuki pelataran rumah sakit yang cukup besar di kota itu. Dengan sigap paramedis melakukan tugasnya dan membawa korban menuju kamar gawat darurat. Dokter dan para suster berlarian menuju ruang gawat darurat, karena pekerjaannya setiap hari seperti itu mereka tampak mahir harus bagaimana menangani korban kecelakan atau pasien gawat darurat. Tampak polisi sedang mengurus dokumen di front office rumah sakit.

Pendaharan hebat terjadi di kepalanya, membuat korban semakin nyaris tidak tertolong. Hidung dan telinganya mengeluarkan darah segar. “Siapkan ruang operasi” kata dokter kepada perawatnya.

Dua orang pasien gawat darurat membutuhkan perawatan segera dan harus dioperasi, sementara tiga korban lainnya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Di rumah tampak sang mama cemas menunggu anaknya yang berjanji pulang malam belum kunjung datang, Maya menemaninya sambil menonton televisi. “emang kakak mo pulang jam berapa katanya ma?” kata Maya mengagetkan mamanya. “Dia hanya bilang akan pulang malam, dia masih ingin mencari sesuatu yang bisa menghibur hatinya yang masih luka”, kata mama membalas.

Tiba-tiba telpon berdering, “mungkin itu kakak ma”, kata adiknya, “hallo, selamat malam, ini dari kantor polisi”, kata suara diseberang sana, “selamat malam pak, ada yang bisa bantu ada apa kiranya?”, jawab mama. “Anak anda mengalami kecelakan di jalan tol, saat ini dia berada di rumah sakit Harapan, silahkan ibu mengecek ke rumah sakit, setelah itu kami akan memintai beberapa keterangan dari Ibu”, kata suara itu lagi. “Innalillahi…apa yang terjadi pada anak saya saat ini pak?”, tanya mana memaksa, dia sedang di tangani oleh dokter, silahkan ibu datang, terimakasih selamat malam”, terdengar disebenrag sana menutup telponnya.

Tampak mama hanya diam dan mulai menangis, “ada apa ma?” sergah Maya, “kakak mu di rumah sakit Harapan, kita berangkat sekarang kesana”, kata mama sambil menarik Maya menuju garasi.

Sesampainya di rumah sakit, mama dan Maya berlari menuju front office dan menanyakan, dimana anaknya yang menjadi korban kecelakan di jalan tol tadi. “Sekarang dia di dalam ruang operasi Bu”, kata petugasnya, “dimana itu?” tanya mama memaksa, “ibu masuk ke kiri nanti ada ruang bertulisan ruang operasi, silahkan ibu tunggu di sana”, katanya menjelaskan.

Ruang operasi tampaknya sibuk dengan dua orang pasien lelaki dan perempuan yang menjadi korban kecelakaan itu. Mama yang sejak tadi menangis memeluk erat Maya dan berharap Tuhan berbaik hati pada dia dan anaknya. “Selama ini kakakmu selalu memaki Tuhannya, merasa tidak pernah bisa hidup tanpa Maria, semua disalahkan, bahkan mama”, kata mama terisak. “Ma… sebenarnya dia hanya butuh waktu untuk memaafkan, pasti ada pengaruh lain yang mengantarkan dia kesini ma,” kata Maya. “Mama yakin Tuhan tetap akan menjaga dia dalam setiap keadaannya,” kata mama.

Setelah dua jam mama dan Maya duduk menunggu kabar dari seseorang yang akan keluar dari ruang operasi itu. Belum juga ada tanda-tanda akan keluar seseorang yang ditunggunya.

Jam mulai merangkak naik dan menunjuk ke angka 12.15 malam.

Seorang dokter keluar setelah lebih dari 3 jam bersusah payah membantu pasien gawat darurat, “Bagaimana dengan anak laki-laki kami Dok?” sergah mama, “masih kritis tolong jangan dijenguk dulu…” jawab dokter. “Mari ikut saya keruangan,” kata dokter mengajak.

“Silahkan duduk…”, sambil menarikan kursi untuk mama dan Maya. “Anak ibu yang laki-laki mengalami trauma yang cukup serius pada kepala dan bagian perutnya, kemungkinan terburuk adalah trauma parah pada rusuknya dan itu akan menyebabkan kelumpuhan permanen”, kata doker, “hahh…lumpuh permanen?? anda tidak sedang main-main kan Dok?”, kata mama membalas dan air matanya mulai mulai membanjir. Maya mencoba untuk menenangkan mamanya yang mulai menjatuhkan airmatanya.

“Dia akan membutuhkan dukungan yang dapat menguatkan untuk menjalani hidup, dia akan sangat terpukul oleh keadaannya, menjalani hidup dengan keadaan demikian pasti bukan impian orang manapun, kuatkan dia, karena secara psikologis dia merasa tersisih nantinya”, sambung dokter.

“Apakah dia sedang bersama seorang perempuan?, dia diantar ke rs bersama dengan lima orang lainnya, tapi tiga orang meninggal dalam perjalanan kerumah sakit.
“Tidak anak saya sendirian, bagaimana keadaan perempuan itu donk?”, sambung mama, “lebih parah daripada anak Ibu”, katanya. Ooh..mungkinkah mobilnya bertabrakan dengan mobil anakku, katanya dalam hati. Aku ingin sekali melihat keadaan mereka berdua, karena mereka berdua saat ini sedang dalam ruang observasi yang menurut dokter mereka masih belum bisa dijenguk. Ooh…Tuhan maafkan sikap anakku, selamatkan mereka berdua.

“Maaf bu, hanya itu yang dapat saya sampaikan, kita hanya bisa berharap Tuhan mendengar doa dan harapan kita, Tuhan Maha Memaafkan bu… saya permisi untuk melihat pasien yang lain”, kata dokter sambil menyalami mama.

Setelah keluar mama berjalan terhuyung seakan tidak percaya pada keadaan anaknya, Maya mencoba menjadi penyangga mama yang mulai pusing lantaran mau pingsan. “Ma, kita semua sayang kakak,
jangan terus bersedih ya ma, bagaimana nanti bila kakak melihat mama sedih, dia hanya akan sangat terpukul” kata Maya menenangkan mamanya. Dipeluknya Maya dengan pelukan yang erat sekali, Maya sadar saat ini hanya dia yang berada dan bisa diajak diskusi mamanya. “May, kamu harus bantu kakakmu”, kata mama sambil menangis. “Pasti ma, aku akan bantu semua yang dibutuhkan”, balas Maya.

************************


Beri tanggapan

Your response:

Kategori