************************
Beberapa hari berlalu di rumah sakit Harapan, mama tampak terpukul atas insiden yang menimpa anaknya beberapa malam lalu di sebuah jalan tol.
Dalam hati menjerit dan memohonkan kesembuhan bagi anak tercintanya, doa seorang mama yang tidak pernah berhenti walau terkadang racun yang diterima sebagai balasan dari anaknya. Orangtua mana yang sanggup melihat anaknya terbaring lemah di rumah sakit, walau sakit yang dirasa tidak sesakit yang diderita pemuda itu kelak, sang mama hanya merasa prihatin atas keadaannya kini.
Dalam keadaan ini mamanya hanya bisa berdoa bagi kesembuhan dan kekuatan anaknya menjalani hidup paska operasinya, kecelakan tersebut mengakibatkan pemuda tersebut harus dioperasi pada bagian perut atau rusuk tepatnya, dan kepalanya. Sungguh sebuah tragedi yang menambah luka cintanya.
Pemuda itu masih terbujur tidak sadarkan diri di ruang Intesif Care Unit sebuah unit yang menampung pasien yang membutuhkan perhatian dan perawatan intensif. Maya yang pergi sejak satu jam lalu datang menghampiri sang mama di ruang tunggu, “Ma, aku belikan mama nasi padang….”, kata Maya, “terimakasih May…”, mamanya membalas.
“Rencananya besok kakakmu dipindah ke ruang perawatan May, mama khawatir dia kaget dan putus asa dengan keadaan barunya” kata mama. “Ma, kita yang kehilangan pasti akan mengalami shock dan itu membutuhkan proses untuk menerima, shock itu merupakan sinyalemen kalau dia sedang dalam proses itu ma” balas Maya.
“Saat ini kakakmu merasa hidupnya sia-sia karena perjodohan Maria, ditambah lagi dia harus menghadapi kenyataan bahwa dia lumpuh dan cacat, mama khawatir dia akan putus asa dan…..” kata mama sambil menangis karena tidak sanggup berkata apa-apa lagi tentang anaknya. “Kalau mama sedih seperti ini, Maya khawatir sikap mama akan menginspirasi kakak jadi apatis, kita harus bantu menguatkan dan menyemangatinya setiap saat ma”, sambung Maya.
Mama terdiam terpaku melihat kondisi anaknya, dalam hati dia ingin sekali menggantikan posisi anaknya dengan dirinya, karena dia tau benar bahwa hidup dengan keadaan seperti itu bisa bikin orang jadi merasa malu dan merasa tersisih. Maya terlihat serius memperhatikan kondisi kakaknya yang menurut dokter berpotensi mengalami kelumpuhan total, sebagai mahasiswi kedokteran yang sebentar lagi akan Coass di RSUD Gunung Jati di Cirebon, Maya tengah meneliti kemungkinan penyembuhan bagi kakaknya itu.
************************
Pagi-pagi sekali pemuda itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan inap di salah satu paviliunnya, mama masih berpikir siapa perempuan yang datang bersama dengan anaknya dalam keadaan yang nyaris sama. Mama menemui dokter yang merawatnya, “Dok, bagaimana dengan perempuan yang datang bersama anak saya kemari”, kata mama menanyakan. “Dia masih diruang ICU bu, apa dia juga anak ibu?”, tanya dokter. “Apakah saya boleh menjenguknya dok tlong ijinkan saya?”, kata mama memaksa. “Silahkan bu…. tapi jangan memaksa dia untuk berbicara yaa..”, kata dokter mengisyaratkan.
Mama masuk keruang ICU yang terlihat bersih dan sejuk dengan pendingin ruangan. Oh Tuhan, cantik sekali perempuan ini, siap gerangan dia, kenapa tidak ada yang menungguinya di rumah sakit, kata mama bergumam dan mengaguminya dalam hati. Mama terkejut dan hampir meloncat dari ranjang perempuan itu, Ooh Tuhan, benarkah yang aku lihat ini, bagaimana mungkin perempuan secantik ini Kau beri cobaan begitu berat.
“Maaf ibu siapa?”, kata perempuan itu terbangun, “Saya..saya….saya ibu dari pemuda yang datang bersamamu ke rumah sakit ini,” kata mama tergagap menjawab karena kaget. “Apa yang terjadi pada dia dan kamu, kata Polisi kalian dibawa berdua dari jalan tol”, tanya mama menyelidik. “Saat ini malam yang cukup ramai, seingat saya ada sebuah mobil yang berputar di jalan tol sepertinya bannya pecah, hanya itu yang bisa saya ingat, bagaimaan dengan keadaan pemuda itu bu?”, tanya perempuan itu.
“Apa dia sudah lebih baik dari sebelumnya?”, tanyanya lagi, sang mama menangis dalam hati, bagaimana mungkin dia lebih peduli sama anakku, padahal kalau dia tau keadaannya sendiri pasti menjerit dan lelbih putus asa daripada anakku. “Dia sudah dipindah ke ruang perawatan tadi pagi”, jawab mama. “Oh iyaa.. siapa nama kamu nak?”. “Saya Nadia bu”, jawabnya.
“Nadia, nama yang cantik secantik orangnya…”, kata mama sambil tersenyum. Nadia hanya tersenyum.
“Tadi saya melihat ibu kaget dengan kondisi saya, kenapa rupanya bu?”, tanya Nadia. “Aku prihatin melihat kondisimu hari ini Nadia, setiap orang selalu ingin sempurna dalam segala hal. Tapi Tuhan memberimu cobaa yang begitu berat ku pikir”, kata mama. “Bu, apa yang ada pada tubuh saya adalah milik-Nya, Dia Maha Berkehendak apapun pada diriku, saya tidak akan marah dan memaki kehendak Tuhan pada saya, dengan keadaan seperti ini saya merasa Tuhan lebih dekat pada saya, kaki ku bukan satu-satunya unsur kesempurnaan bagi manusia di dunia ini, saya tidak boleh picik pada keempurnaan.” jawab Nadia.
Ooh Tuhan, siapakah dia yang begitu ikhlas pada kehendak Mu, bagaimana seorang perempuan tetap optimis memandang kebhidupan ini dengan keadaan seperti ini. Sungguh bertolak belakang dengan anakku yang kerap marah dan memaki Mu ketika tertimpa cobaan dari Mu.
“Kenapa ibu melamun, apa yang sedang ibu pikirkan?”, tanya Nadia mengagetkan mama yang terpaku melamun membandingkan keadaannya dengan anaknya. “Bagaimana orangtuamu, kenapa mereka tidak datang kesini?”, tanya mama membalas.
“Kata dokter mereka keadaannya tidak terselamatkan, mereka meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit ini, “, katanya mengenang. “Tuhan lebih menyayangi mereka’, kata Nadia. “Aku turut berduka Nadia, aku tidak tau harus bilang apa, insiden itu merenggut orang terkasihmu”, kata mama sedih. “Ya, bahagia dan sedih datang berganti untuk mengingatkan manusia akan perkenan Tuhan (sunatullah-pen) bahwa semua hal pasti terjadi pada manusia hanya masalah waktu saja”, sambung Nadia.
“Kamu tinggal dimana nak?”, tanya mama. “Saya tinggal di Bogor bu, sekarang hanya tinggal saya dan seseorang yang membantu saya saja di rumah itu”, jawab Nadia. “Aku tinggal kamu dulu ya nak, hari sudah mulaii siang sebaiknya kamu istirahat supaya cepat pulih yaa, cepat sembuh ya Nad…”, kata mama sambil menyalami Nadia. “Terimakasih sudah berkunjung bu, salam buat anak ibu semoga cepat sembuh juga ya bu….”, katanya sambil tersenyum.
************************
Setelah lebih dari dua minggu pemuda tersebut berada di ruang perawatan, akhirnya dokter mengijinkan untuk pulang dan meminta pada mama dan Maya untuk tetap konsisten menjaga dan menguatkannya setiap saat. Mama langsung teringat pada Nadia yang ada sudah pindah di ruang sebelah, “bagaimana dengan Nadia Dok, apa dia sudah boleh pulang juga hari ini?”, tanya mama. “Dia masih ingin menunggu kakaknya yang akan menjemput lusa, kebetulan saat ini kakaknya sedang ada di luar negeri, Ibu kan sudah lihat kondisinya”, balas dokter.
“Saya akan berpamitan dulu dengan Nadia Dok”, kata mama. “Silahkan bu”, dokter membalas.
“Nadia”, kata mama tak sengaja mengagetkan lamunannya. “Ibu, sudah mau pulang yaa, semoga cepat pulih dan mulai beraktifitas lagi ya”, balas Nadia. “Nad, bolehkah kita tetap bersilaturahmi?”, kata mama. “Tentu boleh bu, bukankah silaturahmi membuat kita mengenal dan bersaudara, saya juga tidak ingin putus komunikasi dengan ibu dan Maya, dia cantik ya bu…..”, kata Nadia. “Yaa kamu dan dia sama cantiknya…”, kata mama seraya tertawa renyah.
“Semoga Tuhan tetap menjaga kita dari kejadian paling buruk, Tuhan adalah bagaimana kita mengasumsikan bu, saya selalu mengasumsikan Dia sebagai yang baik dan terbaik, maka demikian lah Tuhan pada saya, semoga anak bu dapat segera mengerti kehampaan dan lukanya saat ini, Tuhan mengajari banyak hal lewat sinyalemen yang sudah Tuhan sampaikan dan dihambur di alam ini, terkadang ketidak mampuan kita untuk menemukannya mendorong kita untuk mencari kambing hitam, Tuhan akan disalahkan karena kita tidak kebagian sinyalemen itu, saya akan bantu doa buat anak ibu semoga cepat memaafkan keadaannya”, kata Nadia panjang lebar. “Terimakasih Nad”, kata mama sambil menangis dan memeluk Nadia yang duduk di tepi ranjangnya.
Mama sudah banyak bercerita pada Nadia perihal anak lelakinya, menurutnya saat ini hanya Nadia sebagai orang lain yang mau di ajak berbagi. nadia begitu dewasa di usia mudanya, saat ini usianya baru menginjak 23 tahun, sungguh luar biasa Nadia gumam sang mama.
************************
who is Nadia????
karakter seorang nadia itu seperti apa ya???
koq belum dijelasin???
msh bersambung???
ditunggu deh lanjutannya.
ttep semangat yupz…!!
Oleh: rianita on Rabu, Juli 9, 2008
at 11:18 am
Nadia is a women with perfectual performance..
we see it….
Thanks for emphaty dan comment
salam,
Oleh: likebaihaqi on Rabu, Juli 9, 2008
at 11:23 am
ehm…ehm….uhuk…uhuk…tuiiiinnggg…
Oleh: Daddy Cool'z on Rabu, Juli 9, 2008
at 11:54 am
Hiks…hiks…Pak Ketu’… gak nyangka bisa bikin crita yg melow kyk gini…salut bwt mas bai….Alur critanya bagus…keep on your good work…
Oleh: Ruri on Kamis, Juli 10, 2008
at 8:13 am
Soreee….
Oleh: dadi on Kamis, Juli 10, 2008
at 10:08 am
Kank bagus cerita na … jadi terharu …dengan Karakter nadia …. klo ada orng ky gto pesen lah selusin …truzz …ntr sambungan nye …..jgn ky sinetron indo ye ???!! dah ke baca … ntr gr2 ktm d rs jd dkt truzz sadar si pemuda ntu kawin dechh ….gak jelas …ntu jg klo bisa …N tuk yg ne part 4 ne..karakter nadia terlalu sempurna bgt kank….tuk sorang cwek pa lagi …..
tapi yg pasti bagus cerita nye …..lu mayan dr pd lu manun…
he he he
” R. cahyana M
Oleh: nk'ghi on Rabu, Juli 16, 2008
at 8:57 am
Penulis selalu berharap dapat menghasilkan tulisan yang berbobot dalam cerita dan muatan, penulis sadar terlalu sering minta maaf adalah bentuk ketidakmauan mencari inspirasi atau motivasi lebih tetntang tulisan cerita, semoga cerita ini tidak seperti sinetron pada umumnya, karena penulis ingin menjadikan ini sebagai cerita yang lain dari yang biasa..hehehe….. tapi mungkin gak yaaa…
Belajar lagi kali yaa……. hehehehe..
thanks for all comments….
Oleh: likebaihaqi on Kamis, Juli 17, 2008
at 3:42 am