Oleh: likebaihaqi | Senin, Juli 21, 2008

Dialektika Cinta (part 5)

Pagi itu tampak burung-burung berkicau di atas pepohonan depan rumah, pemuda yang dari tadi duduk di kursi roda hanya bisa memandangi sambil sesekali mengeluh karena kesakitan saat mencoba berdiri. Sejak pagi setelah selesai sarapan pemuda itu hanya duduk-duduk di teras rumahnya, Maya yang sudah siap untuk berangkat menyapa pemuda itu, “Kak, aku kekampus yaa, jangan terlalu dipaksakan untuk berdiri, saat ini masih terlalu lemah, sabar ya kak…”, sapa Maya. “Iya May, terimakasih yaa….”, jawab pemudah itu.

Sebagai anak lelaki satu-satunya dari keluarga yang sempat mengalami broken home sejak belia rupanya menginspirasi pertumbuhan psikologisnya sebagai lelaki yang cenderung sentimentil dan posesif. Lain halnya dengan Maya yang lebih tahan keadaan yang mengguncang, pemuda itu memiliki sejarah panjang dalam hidupnya ketika harus memilih jalan pintas yang menurutnya paling benar dan tetntu saja baik. Hidup di jalanan sebagai komunitas pecandu narkoba, beruntung dia memiliki sang mama yang kerap membantu dan menolong di kala susahnya.

Sejak perpisahan mama dan papanya, pemuda itu terlihat sering kali murung dan menghindar dari pergaulan, berbeda dengan Maya, pemuda itu terkesan menjadi pecundang dalam setiap kegagalannya, bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan advertising tidak membuatnya lebih kreatif sebagaimana perusahaannya menuntut.

Sepeninggal Maya, sang mama keluar sambil membawa segelas air dan obat yang harus segera diminum oleh pemuda itu, “Ayo diminum obatnya…”, kata mama. Mama tertegun memandangi anak laki-lakinya yang kini lemah bersandar di kursi roda akibat kecelakaan malam itu. Kasihan sekali kamu nak, gumam mama dalam hatinya, semoga kamu dapat mengambil hikmah dari kejadian ini.

“Mama cantik sekali pagi ini, mau pergi kemana ma?”, kata pemuda itu, “ahh…memang mamamu cantik kan..?” katanya bergurau. “hihihi… iya mama masih tetap cantik seperti waktu muda dulu….., bodohnya papa yang pergi begitu saja karena mata terlalu buta karena silau oleh perempuan yang dia pikir lebih cantik dari mama padahal jelek…”, balas pemuda itu, “husshh… kamu ngga boleh menjelek-jelekan papamu seperti itu, dia tetap papamu walau sudah bukan suami mama…”, kata mama menegur.

Mamanya memang perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang semakin menua, karena dia adalah perempuan yang tau bagaimana cara merawat tubuh dan wajahnya walau dia bukan seorang perempuan pesolek seperti kebanyakan perempuan kini pada umumnya.

“Eh.. mama jadi teringat sama Nadia, dia perempuan yang hebat lho, kecelakaan itu mengakibatkan kakinya harus diamputasi karena patah, kasihan dia”, kata mama. “Ya ma… aku merasa bersalah karena sudah menjadi sebab musibah bagi orang lain, aku merasa hina sekali karena hal itu,” balas pemuda itu. “Yang paling penting dari semua kejadian ini adalah hikmah yang bisa kamu ambil nak,” jawab mama seraya melingkarkan tangannya di leher anaknya dari belakang.

Pagi itu mereka terlibat pembicaraan yang emosional, sambl sesekali tertawa renyah bersama, burung yang sejak pagi sekali hinggap di pohon pun tampak terhibur oleh betapa mesranya mama dan anaknya.

Hari beranjak siang, matahari seolah yakin bahwa sekaranglah saatnya bergeser ke barat, mama tampak siap-siap mau pergi ke supermarket karena ada beberapa kebutuhan yang harus dia beli. “kamu mau ikut….,” kata mama kepada pemuda itu, “apa mama tidak malu punya anak cacat sepertiku ma..?” tanya pemuda itu. “Masyaallah, kamu ini ngomong apa kamu pikir mama tidak punya hati sayang…. mama sayang semua keadaan anak-anak mama, orang tua mana yang tega melihat anaknya tersisihkan, seburuk apapun keadaannya semua tetap anak mama, dan mama berkewajiban memperhatikan hak-haknya.” balas mama.

“Bukan begitu ma, aku minder dan kasihan melihat mama”, jawab pemuda itu. “Biarlah aku di rumah, menikmati kesendirian dalam luka yang makin menganga setiap hari…..”, sambungnya. “Mama merasa terluka karena keadaanmu yang selalu pesimis melihat luka mu nak, jangan biarkan dirimu hancur oleh perasaan luka, bagian tubuhmu mana yang luka, cuma perasaanmu aja kan”, kata mama.

No one can make you sad, jealous, angry, vengeful, or bruise – unless you let him, Perasaan mu tentang luka, sedih, cemburu karena dirimu yang menghendaki nak”, sambung mama seraya memeluk anaknya yang terduduk di kursi rodanya. Sambil membayangkan bagaimana perasaan anaknya tercabik-cabik keadaan yang mengguncangnya. Mama begitu paham dengan sisi lemah anaknya sejak kecil, tepatnya sejak papanya harus pergi menninggalkan dirinya karena perempuan lain, dia anak yang begitu lemah dan cengeng.

“Aku membutuh support yang menguatkan ku setiap hari ma, aku merasa lemah….”, kata pemuda itu sambil meneteskan airmatanya. “Kamu akan mendapatkan itu nak….”, jawab mama. “Kalau kamu tidak ikut mama pergi sendiri sekarang yaa… ingat, jangan biarkan dirimu seperti ikan yang mati di laut!.” kata mama lagi. “Di mana lagi ikan akan mati kalau bukan di laut ma….? hahahahaa….., jawab pemuda itu sambil terkekeh yang juga membuat mamanya tertawa.

************************

Di rumah Nadia sekarang terasa sepi karena tidak ada lagi orang-orang tercinta yang selalu menyapa dan menyemangatinya setiap hari, semua benar-benar sepi, suasana yang seringkali membuat Nadia harus berlinang airmata dan buru-buru tersadar bahwa dia tidak boleh larut dalam dukanya, kakaknya yang baru pulang dari Inggris karena bekerja di sana menyarankan Nadia untuk ikut bersamanya di Inggris, tapi Nadia menolak bahwa hidupnya ada di sini, di rumah ini.

Nadia adalah anak kedua dari pasangan yang terbilang sukses, dia tidak pernah ingin menikmati kesuksesan orangtuanya demi sebuah gengsi, Nadia menjalankan bisnis pribadi yang diajarkan papanya untuk bekal di masa depan, usahanya di bidang souvenir dan perancang mode adalah dua hal yang sangat diminatinya. Menjadi besar menurutnya adalah hak dan kewajibannya, bisnisnya dimulai dari menyewa sebuah rumah di pinggiran jalan yang menurutnya startegis sampai akhirnya di rumah yang kini menjadi miliknya berubah menjadi sebuah boutique bagi souvenir dan mode terbaru rancangannya yang lumayan laris di kalangan artis.

Bisnis dan hidupnya mengajarkan banyak hal tentang tanggungjawab, kesetiaan dan rasa syukur. Beberapa tahun terakhir Nadia memiliki rumah singgah bagi anak-anak miskin yang membutuhkan pendidikan gratis dan berseragam sekolah apa adanya. Itu adalah bentuk rasa syukurnya pada Tuhan yang telah setiap hari telah mendewasakannya.

Nadia memiliki seorang kakak lelaki yang bekerja di Inggris paling tidak untuk lima tahun kedepan, saat ini hanya dia yang menjadi teman berbagi susah dan bahagianya. Nadia akan tinggal bersama seorang pembantu setelah kakaknya kembali ke luar negeri nanti.

Malam itu setelah selesai makan kakaknya pamit dengan Nadia karena harus menemui kliennya yang sedang bertandang ke Jakarta, “Nad, aku pergi ke Jakarta yaa, jam 10 an aku kembali, kalau kamu ngantuk tidurlah dulu…”, kata sang kakak. “Hati-hati di jalan ka, jangan ngebut dan tetap waspada ok!”, jawab Nadia. Nadia yang tengah duduk di ruang tengah teringat dengan maya dan mamanya yang menjadi temannya di rumah sakit, mereka baik sekali mau menjenguk ku… gumam Nadia. Nadia yang sejak tadi sibuk membuka-buka halaman bukunya yang sedang dipegangnya tampak mulai melamunkan keadaan pemuda itu yang makin terluka oleh keadaannya, semoga dia berkenan memaafkan keadaannya.

Krriiingg…… dering telpon mengagetkan lamunannya, “halo…”, kata Nadia, “Maaf apa ini rumah Nadia?”, kata suara di seberang sana, “benar ini rumah Nadia, maaf ini dari mana?”, jawab Nadia, “Ini mamanya Maya, kamu masih ingat kami Nadia?”, suara di seberang sana lagi, “oohh…Ibu.. apa kabar, bagaimana kabar Maya dan keadaan kakaknya, apa sudah lebih baik?”, sambung Nadia. “Mereka semua baik-baik saja Nad, terimakasih mau bertanya, ngomong-ngomong gimana keadaan kamu sudah baikan…?”, tanya mama. “Alhamdulillah, aku baik dan sehat Bu, pastinya sudah lebih baik dari keadaan kemarin…”, jawabnya.

“Setiap hari aku harus selalu menyemangati supaya dia tetap sabar dan kuat dengan kehampaan dan lukanya, ngomong-ngomong apa aktifitas kamu Nad?”, tanya mama. “Aku menjalankan beberapa bisnis bu, lumayan untuk menghidupiku sendiri, aku hanya harus survive sendiri supaya tidak mati tenggelam.. hahahahaa…”, kata Nadia sambil tertawa renyah.

Mereka terlibat pembicaraan yang santai dan selalu diselingi tawa kecil dan bahagia di antara mereka. Setelah berbicara via telepon untuk beberapa lama, mereka tampak menyudahi dengan saling memberi salam.

Malam itu Nadia tampak lelah dan ingin segera pergi tidur, jalannya sedikit tertatih karena harus ditempa oleh tongkat untuk menjaga keseimbangan pada kakinya yang harus di amputasi karena hancur akibat kecelakan malam itu.

************************


Tanggapan

  1. koq ga seseru dialektika yg kmrn2 ya mas…???
    kumaha iyeu???;)

    ditunggu deh klanjutannya…

  2. Walahh ….ko kaya gini ….tanggung Kank ….coba di perjelass …akhir & awal di tengahh cerita kaya bimbang & bingung ye ?? …jangan nyape tersanjung 10…he he he ….masih nget gak ??
    ..pokoke namah …bagus lahh …

    yang pasti harus semangat2 …tok bikin lebih sempurna……
    1+1 = 2 ( Betul )..ilmu pasti …
    ok ! ok!…

    Di antos pisan salajeng na …????


Beri tanggapan

Your response:

Kategori