Penulis sadar dengan kontraversial yang akan muncul dalam benak pembaca tentang bagaimana mungkin Suami setia mencari pelacur.
Suami (baca: lelaki) memiliki kebesaran ego yang akan selalu dibawa sampai mati, lelaki lebih suka menyaksikan film atau artikel atau gambar porno sebagai inspirasi dalam mencari sensasi yang luar biasa untuk urusan seksnya ketimbang para istri yang selalu menganggapnya tabu, suami ingin selalu dianggap mampu oleh perempuan manapun. Perempuan dituntut untuk membuktikan bahwa suaminya memang perkasa untuk urusan seks.
Istri yang tidak bisa (baca: mau) mengakui keperkasaan suami membuat menu baru dalam rumah tangganya yaitu selingkuh, sesuatu yang ditakutkan dan di khawatirkan oleh para istri. Selingkuh bukan melulu urusan cinta atau tidak cinta, lebih dari itu adalah persoalan sensasi dari fantasi seksual.
Penulis pernah menonton film D.O (Droup Out) yang dibintangi oleh dr. Boyke, Titi Kamal dan teman-temannya, film tersebut tidak berbicara begitu permisifnya urusan seksual sehingga menjadi wajar diangkat menjadi film layar lebar, suka atau tidak film itu mengajari perempuan untuk bagaimana seharusnya besikap pada suami yang selalu merasa bangga dengan keperkasaannya.
Suami yang selingkuh merasa bangga pada pasangan selingkuhnya karena mau mengakui keperkasaannya walau hanya pura-pura, suka atau tidak itu yang dibutuhkan lelaki, berpura-puralah para istri bangga pada keperkasaan para suami. Suami hanya ingin diakui kalau dia hebat, walau sebenarnya tidak terlalu hebat.
Pelacur lebih tau bagaimana cari merebut hati laki-laki untuk urusan ranjang, sejujurnya suami juga selalu ingin meranjang dengan pelacur. Walaupun lelaki itu terlihat baik dengan kehidupan seksual yang dingin.
Para lelaki ingin memiliki istri yang bisa bersikap seperti “pelacur”, sedikit nakal fantasinya untuk urusan ranjang, istri yang terlihat baik-baik dan merasa berkelas pasti enggan karena hal itu tabu, ironinya kesempatan itu justru digunakan oleh para pelacur untuk menggantikan para istri untuk urusan ranjang.
Lelaki memiliki masa pubertas yang panjang dan libido paling sensitif pada rangsangan non verbal. So, jadilah “pelacur” di depan para suami untuk urusan ranjang. Jadilah orang lain untuk mengerti para suami.
bagus…bagus…dan bagusssss,menurutku pesannya bahwa perempuan atau istri mestinya selalu menghargai dan menghormati suami ada apanya…
( ) betul
( ) tidak betul
Oleh: dadi irawan on Jumat, Juli 25, 2008
at 1:53 am
Saya jadi teringat oleh perkataan teman yang juga seorang suami, menyatakan bahwa wanita itu harus bisa menjelma sebagai Ratu, Pelacur dan Pembantu. Seorang istri harus pintar bersolek agar tetap cantik, elegan dan dikagumi orang banyak layaknya seorang Ratu di kerajaan; namun untuk urusan di ranjang, seorang istri harus bisa melayani suaminya dengan lihai layaknya seorang pelacur yang sedang melayani tamunya; dan seorang istri juga harus bisa mengurus rumah tangganya seperti beres-beres rumah, masak, mencuci dan lain-lain persis seperti pembantu.
Jauh diluar itu, saya menghimbau kepada para isteri, janganlah hal ini menjadi beban tapi niatkan ini sebagai ibadah kepada Allah, insya Allah, Dia yang akan memelihara suami kita. Amin.
Oleh: bu ririe on Jumat, Juli 25, 2008
at 4:45 am
Ooh..so sweet…
Thanks ya Bu Ririe yang bersedia mnegomentari….
see u on the class
Oleh: likebaihaqi on Jumat, Juli 25, 2008
at 7:25 am
terinspirasi dengan situasi dikantor yach..
jelek, cakep, sempurna dan tidak sempurna itu adalah istri kita yang harus dibanggakan
jangan mau dibodohi istri dan jangan suka membodohi istri itu intinya mas.. biar gak ikutan sama temen yang lain
Oleh: parta on Sabtu, Agustus 2, 2008
at 6:04 am
mmhhhhh….akheee..akhee….
Oleh: errikthered on Sabtu, Agustus 2, 2008
at 2:35 pm
imbang dong….kan pakaian bg pasangan…istri jg punya fantasi lho…hayo komunikasi yg plg utama,msg2 pasangan jg bisa beda lho kebutuhannya….kl ada hambatan komunikasi 10x,jgn libatkan pihak ke3…kehancuran,dendam dan syaitan menyambut….gitu loh!….
Oleh: laelan on Kamis, Juli 16, 2009
at 10:11 am