Oleh: likebaihaqi | Kamis, Agustus 7, 2008

Dialektika Cinta (part 6)

Pagi setelah sarapan Nadia tampak asyik menonton berita di salah satu televisi nasional yang memberitakan perilaku korupsi pada beberapa pejabat di Kejaksaan Agung. Apa mereka juga benar-benar kesulitan dengan kenaikan BBM yang baru saja dilakukan pemerintah, sehingga sampai hati mempertaruhkan jabatan dan nama baiknya untuk sejumlah uang suap yang diberikan Artalya Suryani terpidana kasus korupsi, gumam Nadia.

Nadia sedang berpikir untuk mencari seorang yang bisa membantu mengantar pergi beraktifitas, karena keadaannya saat ini sangat tidak mungkin untuk membawa kendaraan sendiri, bagaimana mungkin dengan kaki yang tidak sempurna ini bisa menjalankan sebuah mobil, pikirnya.

“Nad, aku antar kamu ke kantor yuk, hari ini aku masih harus ke Jakarta”. kata kakaknya mengagetkan. “Ok, aku ambil tas ku dulu”, jawab Nadia.

Sepanjang jalan mengutarakan niatnya untuk mencari seorang supir pribadi untuk membantunya mengantarkan dirinya pergi ke kantor. “Boleh aja, tapi aku yang akan seleksi yaa, aku ga mau sembarang orang yang bekerja pada kamu”, kata sang kakak yang begitu sayang pada satu-satunya adik dan keluarganya.

Sang kakak memang sosok lelaki ideal menurutnya, dia baik, bertanggungjawab, walaupun dia menjalani hubungan jarak jauh dengan perempuan di Jakarta dan dia di Inggris tidak pernah terdengar masing-masing bercerita atau mengeluhkan keadaan pasangannya, fine dalam mempertontonkan kemesraannya. Bagaimana sang kakak begitu sayang dan mengantarnya pulang ke Jakarta saat pacarnya main kerumah untuk menemani Nadia yang menurutnya lebih terpukul oleh insiden yang merenggut nayawa kedua orangtua. Menurut sang kakak, penghargaan pada sebuah hubungan itu lebih penting daripada sekedar mengumbar materi-materi romantisisme belaka. Nadia mengagumi kedewasaan kakak dan pacarnya itu.

“Kita sudah sampai sayang, aku mau ke Jakarta kerumah Sisca, setelah itu kami berencana pergi ke Bandung untuk keperluan risetnya. Nanti sore aku jemput yaa….”, kata kakaknya meyakinkan. “Ok, jangan lupa belikan oleh-oleh dari Bandung yaa, hati-hati di jalan en jangan ngebut, salam buat mba Sisca”, jawab Nadia sambil turun dan menutup pintu mobilnya. “Ok, aku janji sayang….jangan lupa makan siang yang enak yaaa….”, kakaknya mencandai sambil berlalu.

************************

Sore itu pemuda itu tampak duduk di depan televisi yang sejak beberapa waktu lalu gemar menyiarkan berita korupsi dimana-mana, setelah pejabat kejakgung giliran anggota dewa perwakilan rakyat di obok-obok KPK yang akhirnya membawa serta dua menteri di kabinet SBY pada dugaan korupsi aliran dana BI, ramainya berita ditelevisi tidak berbanding terbalik dengan perasaan pemuda yang sedang termenung entah apa yang ada dalam pikirannya yang membuatnya terkadang harus sedih dan ingin menangis. “Kak, bagaimana dengan keadaanmu hari ini?”, tanya Maya mengagetkan kakaknya yang sejak tadi hanya duduk tanpa melakukan apapun.

“Aku sedang merasa kesepian May, keadaanku saat ini hanya menambah sepiku jadi semakin menyakitkan”, sahutnya. Rupanya pemuda itu tidak pernah berusaha untuk memaafkan keadaannya yang sedang kesepian dan menjadi serba disable.

“Hari ini kakak terus menempatkan diri dalam rutinitas yang sia-sia, apakah masalah itu akan pergi bila kita hanya duduk dan diam, sesuatu tidak cukup hanya dipikirkan, lakukan apa yang kakak bisa lakukan sekarang, semua ide dan konsep dalam kepala kita butuh aktualisasi kak supaya ngga cuma jadi sampah pikiran. Kakak masih larut dalam luka akibat cintanya pada Maria? Kakak ngga lihat aku? aku lebih merasa enjoy dengan keadaanku yang masih jomblo karena ditinggalkan lelaki buaya. Seharusnya aku yang berada dalam posisi kakak, aku perempuan yang mau tidak mau diikat oleh norma sosial aneh yang terlanjur berkembang, perempuan akan jadi perawan tua bila sampai dengan usiaku masih belum memikirkan perkawinan”, kata Maya panjang lebar.

“Selama di rumah sakit aku sering ngobrol sama Nadia, dia perempuan tangguh yang pernah aku lihat, usahanya berkembang disamping usianya yang terus bertambah, dia tidak pernah pusing dengan kejombloannya. Mungkin kita hanya butuh obyek lain yang menuntut konsentrasi dan fokus yang tinggi, membiarkan diri hanya mengalir sama saja membiarkan kita semakin bebas diombang-ambing keadaan. Mungkin perlu memikirkan hal paling negatif yang kakak tidak suka dari Maria akan membantu dalam melupakan dia, hidup kakak membutuhkan perhatian lebih besar saat ini”, kata Maya panjang lebar.

“Emosiku tidak pernah mengijinkan untuk melihat hanya pada sisi negatifnya, aku terlalu sayang May, sisi negatifnya adalah perangkat hidupnya, sama dengan sisinya yang positif, dia menjadi Maria yang aku sayangi karena itu semua, dia pribadi yang lengkap.” balas pemuda itu.

Sang mama datang menghampiri dan membaur pada perbincangan mereka, “tidak salah sayang, emosimu menutupi logikamu, kamu memang pribadi yang menarik menurut mama, kamu pandai merealisasikan entitas perasaan sayang dan cintamu. Kamu seorang pemuja perempuan, dan perempuan manapun selalu ingin dipuja. Seingat mama, kamu paling sulit untuk melupakan pacar kamu, cinta kamu terlalu dalam dan Maria karena ikatan norma sosial yang aneh kata Maya, harus patuh terhadap kemauan orangtuanya. Bukankah itu tindakan terpuji ketika kita harus mengutamakan orangtuan sebagai bentuk balas budi dengan sikap.” kata mama.

“May, kamu tidak perlu menasehati kakakmu perihal ini, dia adalah orang paling tau bagaimana harus bersikap, emosinya aja yang belum siap dengan keadaan barunya. Percayalah May, kakakmu hanya butuh waktu untuk melupakan semua lukanya dan memulai lagi kehidupan yang baru. Kakakmu tau kapan dia harus berhenti, kita doakan semoga waktu yang dinantinya cepat menjelang, cinta memang seperti bagaimana kita menginginkan.” kata mama kepada Maya.

************************


Tanggapan

  1. Wah.. Wah.. Wah.. Panjenenganipun pancen saestu hebat mas..! Migdodayeni.. Saget nyerat koyo mekaten.. Kulo acungi jempol sedoso haha… :-D
    Nanging menawi kulo angsal tanglet,panjenengane saget nyerat mekaten saking ulah pikir lan tajeming pikiran piyambak utawi angsal saking sumber lain.. Mas..
    Menawi wonten lepat kawulo nyuwun agunging samudro pangarsami..
    ‘CMIIW’

  2. Dimas Hardi thanks for comment,
    Sejujurnya ini merupakan ekspresi atas diri, sedapat mungkin semua bentuk ekspresi yang aku sampaikan adalah orisinil alias olah pikir sendiri, walau seringkali menjadi pemulung ide dari para pembesar.
    Aku sedang belajar.
    Thanks before…


Beri tanggapan

Your response:

Kategori