Oleh: likebaihaqi | Kamis, Agustus 14, 2008

Dialektika Cinta (part 7)

Mama mengajak kedua anaknya untuk berlibur menikmati indahnya pantai Anyer, pemandangan tampak begitu indah di tambah dengan kicau bangau di atas laut. Cuaca pagi itu begitu cerah, tapi tetap saja tidak secerah suasana hati orang yang luka hatinya.

“Kita seharusnya bersyukur pada Tuhan karena selalu diberi kesempatan untuk menikmati keindahan yang selalu dihadirkan dalam diri manusia, seindah apapun pemandangan dan suasana ini tetap menuntut kehadiran subyektifitas kita untuk bisa diterjemahkan menjadi indah.” kata mama mendahului pecakapan.

Mereka terlibat obrolan yang menyenangkan yang selalu diselingi canda dan tawa, sepertinya sedikit mampu untuk melupakan perasaan pemuda itu pada lukanya. “Maya itu terlalu berlebihan pecaya dirinya ma, aku cuma khawatir keyakinannya tidak sebesar itu,” sela pemuda itu. Maya memang terlihat lebih percaya diri terhadap apa yang dihadapinya, terlebih untuk soal cowok, “aku cuma harus menyiapkan diri menjadi pantas sehingga aku hanya pantas dipinang oleh cowok yang baik-baik dan memang pantas menyayangi dan mencintai aku”, balas Maya.

“Ya, siapkanlah diri kalian untuk pantas menjadi apapun, saran mama jagalah masa sendirimu saat ini untuk menuai hari bersama di masa yang akan datang, bangun kepantasan itu dengan kegelisahan akan sebuah enigma hidup besok”, kata mama.

Pagi tadi mereka menikmati sarapan paginya di pantai Anyer, sebuah rencana mama yang hebat. Sesekali memanjakan diri dalam keadaan rileks seperti ini akan membantu meredefinisi skala prioritas hidup dan mengheningkan diri dari keramaian kota. Tapi bukankah menyepi dalam keramaian adalah sebuah hal yang lebih baik, ahh sudahlah….toh ini hanya sesekali.

“Sepertinya mama kenal siapa yang berjalan bertiga itu”, kata mama sambil menunjukkan orang yang berjalan bertiga dari kejauhan.

“Ya Tuhan itu kan Nadia ma, sama siapa aja ya ma?”, tanya Maya.

“Hai Nadia,” kata mama sambil melambai kearah Nadia yang juga tertegun dengan panggilan akrabnya itu. “Ooh..ibu..apa kabar?”, kata Nadia menghampiri dan menyalami mama, Maya dan pemuda itu. “Perkenalkan ini kakak ku yang pernah aku ceritakan bu, dan ini adalah tunangannya yang dalam waktu dekat akan dinikahinya”, kata Nadia mengenalkan kakak dan tunangannya. Mereka saling bersalaman dan sesekali tertawa ketika perkenalan mereka dengan Nadia yang terlalu kebetulan menurut mama.

“Mari bergabung disini aja, masih ada tempat koq untuk kalian”, kata mama menyilakan mereka duduk.

“Bagaimana keadaanmu mas,” kata Nadia sangat hati-hati ke pemuda itu. “Alhamdulillah keadaanku lebih baik dari sebelumnya, sekarang sudah mulai belajar berjalan, maafkan aku yang telah menjadi sebab musibah bagimu”, kata pemuda itu.

“Ooh syukurlah semoga cepat pulih ya, aku tidak pernah kecewa pada keputusan Tuhan pada ku, bila Tuhan tidak berkehendak toh insiden itu pasti dapat dielakan, tapi rupanya Tuhan berkehendak lain”, jawab Nadia.

“Tuhan tidak pernah memberikan tanggungjawab atau beban di luar kemampuan kita, kalau kita tetap diberi juga beban itu, pasti karena Tuhan tau bahwa beban itu terlalu mudah untuk kita tanggung, yang dibutuhkan cuma kebesaran hati dalam menerima semua tanggungjawab itu, kalau kita merasa tidak mampu memikulnya, maka bagilah tugas itu pada Tuhan”, kata kakak Nadia.

“Ya, dan aku sombong karena tidak membagi tugas itu pada Tuhan,” kata pemuda itu.

“kamu hanya belum tau bagaimana harus membagi tugas itu pada Tuhan nak,” mamanya menjawab.

Mereka berenam saling membagi cerita untuk mengisi liburan mereka kali ini, sungguh pemandangan yang lain dari biasanya, pemuda itu tampak sering memandangi Nadia dan sesekali menundukan kepalanya. Dia coba menyadari bahwa ternyata hidupnya memang tidak sebesar kolor seperti kata orang tua itu. Menjadi pribadi yang tetap cool dengan berbagai keadaan akan membawa keberuntungan tersendiri, selain tetap terlihat taft pasti juga terlihat ikhlas.

Nadia yang sadar dirinya menjadi perhatian pemuda itu, mencoba untuk tetap tenang dan tidak bergeming. Hari sudah menjelang siang, tapi tetap saja suasana masih sama menyenangkannya, canda dan tawa mereka tidak berhenti. “Bagaimana akalau kita makan siang bersama di sini”, ajak mama. “Kami sudah pesan lho, pasti akan jadi pengalaman yang menyenangkan”, kata mama berbohong soal pesanannya.

“Bolehkan kak kita makan siang bersama Maya dan keluarga?”, tanya Nadia pada kakaknya yang dibalas dengan anggukan sambil berkata “apakah kami benar-benar tidak merepotkan apalagi mengganggu liburan ibu dan yang lainnya?”.

“Sungguh tidak, anggap ini permohonan kami untuk melanjutkan silaturahmi yang terjalin karena kebetulan.” jawab mama dengan bijak. “Apakah kalian menginap di sini atau langsung pulang?”, tanya mama. “Insyaallah kami langsung pulang bu, bagaimana dengan ibu?”, jawab kakak Nadia.

Rencananya kami juga akan lagsung pulang ke Jakarta, oh yaa…May, bantu mama untuk siapkan makan siang kita yuk”, ajak mama. Hmm…. rupanya mereka menyiapkan makan siang dengan ikan bakar yang baru dipesan dari restaurant di pantai itu, “Mama beli ikan bakaar, tapi kita diijinkan untuk membakarnya sendiri lho, yang mau berpartisipasi mari…”, kata mama. “Kita bantu yuk,” ajak kaka Nadia kepada tunangannya sambil mengajaknya bangundari tempat duduknya.

Sekarang hanya tinggal Nadia dan pemuda itu yang memang sedang jadi tamu istimewa karena keadaannya masaing-masing. “Bagaimana perasaanmu sekarang mas, apa masih menganga luka itu?” tanya Nadia pada pemuda itu, Nadia sadar itu pasti tidak sopan, tapi karena dia telah merasa dekat pada semuanya di hari itu, dia memberanikan dirinya bertanya.

“Lukaku sedang beradaptasi Nad, akhirnya aku merasa bahwa aku hanya butuh waktu untuk melupakan semua yang pernah terjadi,” balas pemuda itu. “Seringkali realitas tidak pernah sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi mungkin itu cara Tuhan berbicara dan mengajari sesuatu hal pada kita, siapapun pasti pernah terluka, dan yang pernah terluka pasti tau cara mengobati lukanya”, jawab Nadia.

“Mungkin kita hanya perlu bersahabat dengan keadaan, supaya mereka juga mau bersahabat dengan kita, bukankah bersahabat dengan diri sendiri itu membantu kita lebih mengerti ingin seperti apa kita ingin melayani dan dilayani”, tambah Nadia.

Mama, Maya dan kakaknya Nadia serta tunangannya sedang sibuk menyiapkan hidangan makan siang dengan membakar ikan dan udang yang cukup besar-besar, sambil sesekali berseloroh. Ini adalah makanan restaurant yang disiapkan sendiri oleh pemesannya, sungguh menyenangkan untuk saling mendekatkan diri.

“Aku terbuka untuk teman berbagimu mas, jangan sungkan, hubungi aku kalau mas ingin berbagi,” ajak Nadia. “Aku merasa malu berbagi pada mu Nad, seakan aku tidak bisa menjalani semuanya sendirian”, jawab pemdua itu.

“Lho, keadaan kamu hari ini menggambarkan bagaimana suasana hati kamu mas, dan kamu tidak perlu mengatakan tentang suasana hati itu, tapi semua orang bisa menebak”, jawab Nadia. “Baiklah kapan-kapan aku akan cerita kalau ada yang ingin aku bagi”, jawab pemdua itu.

Menu makan siang telah siap dan sedang dibawa menuju meja mereka, “nah ini dia ikan dan hewan-hwean laut yang sudah siap disantap,” kata mama. “Wahh ikan bakar dan sambal terasi kayak gini ga ada di Inggris lho kak..”, sambung Nadia mencandai kakaknya.

“Iya, ini makanan yang tidak akanaku dapat di sana,” kata kakaknya. “Mari silahkan dimakan,” kata mama menyilahkan mereka semua untuk makan.

Hari itu mereka tampak bahagia, tak terkecuali pemuda itu yang sudah mendapatkan teman barunya untuk curhat. Makan di pantai dibawah pohon kelapa yang rindang dan melindungi dari sengatan matahari merupakan khayalan semua orang, belum lagi angin yang sejak pagi memang semilir.

*****************************


Tanggapan

  1. waduh..koq jadi panjang gini ya…jalan ceritanya…
    jangan2 bener kata sodara ranggi,klo dialektika cinta mo nyaingin tersanjung ya mas????hehehe..^_^!
    gpp koq mas..yg penting mas udah punya fans setia dialektika cinta.salah satunya aqu:).
    klo boleh aqu kasih masukan…
    menulislah dengan hati mas…karena ketika qta menulis dgn hati yang merasakan bukan hanya penulis, tapi para pembaca juga akan iqut terbawa.
    yah…itu klo menurut aqu loh mas….
    tetep smangat ya mas untuk menulis…
    ditunggu endingnya.;)

  2. Rien, terimakasih buat komentarnya, ini komentar yang diharapkan, datang dari hati dan mendekonstruksi. Ini tentang bentuk ekspresi yang tidak bebas, pembaca perlu diakomodir.
    Thanks before Rianita….
    Please keep comment


Beri tanggapan

Your response:

Kategori