Oleh: likebaihaqi | Jumat, Agustus 22, 2008

Dialektika Cinta (part 8)

Di hari Minggu yang masih mendung sejak kemarin pemuda itu tampak berseri ketika mobil yang mengantarnya sudah memasuki pelataran parkir toko buku Gramedia yang ada di bilangan Jakarta Timur, pemuda tersebut memang hobi membaca dan mengkoleksi buku-buku sejak kecil, dia hampir hobi membaca semua buku, mlai dari filsafat, hukum, psikologi, akuntansi, manajemen, politik, komputer dan novel.

“Ayo ma, kita lihat-lihat koleksi buku-buku yang belum pernah aku miliki atau aku baca, ada beberapa yang pengen aku beli ma”, ajak pemuda itu, Maya hanya mengikuti dari belakangnya, “aku akan cari buku penunjang kuliah ku ya ma”, kata Maya. “Silahkan pergi ke tempat buku kalian masing-masing”, jawab mama.

Sambil berjalan tertatih danmasih ditopang tongkat penyangga mamanya tetap sabar menggandengnya, sejak dirinya terhempas ke kursi roda dia berhenti bekerja karena tidak mungkin untuk beraktifitas di kantornya dengan keadaan seperti itu.

“Ma, biar ngga bosan mendingan mama cari buku sendiri, biarlah aku coba berjalan sendiri ya ma”, kata pemuda itu yang kasihan pada mamanya yang setia menggandeng. “Kamu yakin bisa melakukannya sendirian?”, tanya mama. ” “Kalau mama pikir tidak mungkin, mari kita buktikan bahwa ini tidak mungkin…”, kata pemuda itu mengajak mamanya untuk berusaha membenarkan katanya.

Pemuda itu tampak asyik menelusuri tiap gang di antara rak buku yang berjajar rapi, sambil berpikir andaikan ada sebanyak ini rak buku dirumah, wahh pasti menyenangkan. Saking asyiknya dia memperhatikan buku-buku motivasi sampai tidak menyadari menyenggol perempuan yang ada disebelahnya dan pemuda itu pun terjatuh, brugg!! “oughh…maafkan saya.” kata pemuda itu sambil menoba berdiri, “saya juga minta maaf karena tidak melihat mas, maaf yaa…”, kata p[erempuan itu merasa bersalah.

Mama yang sejak tadi memperhatikan langsung menghampirinya dan berkata “kamu pasti sudah berusaha sebaik mungkin untuk berjalan sendiri”. “Setidaknya aku sudah berusaha ma, hanya saja aku meleng“, jawab pemuda itu. “Maafkan saya mas, bu”, perempuan itu bicara, “nda papa koq, saya jadi perlu lebih hati-hati dan tidak sibuk sendiri…..hehee…”, sambut pemuda itu dengan tawa.

Dia memperkenalkan diri ke perempuan itu, dan dari tadi hanya senyum-senyum melihat dia. “Saya Sheefa, biasa di panggil Ifa senang berkenalan dengan kamu mas”, jawab Ifa. “Nama yang cantik, dan secantik orangnya”, goda pemuda itu. Mama hanya senyum-senyum aja melihat anaknya yang baru dapat kenalan dan sudah ngobrol ngalor-ngidul yang merupakan aspirin bagi lukanya.

“Kamu suka baca buku motivasi yaa?”, tanya pemuda itu. “Saya suka motivasi, novel, dan psikologi pengembangan diri, kalau mas sendiri?”, Ifa balik bertanya. “wahh.wahh.. kamu hobi baca ya? aku juga suka semua jenis buku, yang penting ada yang bisa aku manfaatkan isinya”, jawab pemuda itu berkelakar. “Ya, idealnya dari setiap buku yang kita baca dapat memberikan warna baru dalam wawasan kita”, jawab Ifa.

“Ngomong-ngomong kamu dah dapat buku apa aja Fa?” tanya pemuda itu. “Hanya ini”, katanya sambil menunjukan buku di tangannya. “Fa, apa kamu keberatan kalau kapan-kapan kita sharing informasi buku-buku kita. dan apa keberatan kalau aku kasih kamu nomor ponsel ku?”, tanya pemuda itu. “Oooh, terimakasih mas, Ifa ga akan keberatan koq. Ini nomor ponsel Ifa”, jawabnya sambil memberikan nomor handphone masing-masing. “Iffa, kamu tinggal di mana?”, kata mama nimbrung. “Saya tinggal di daerah Rawamangun bu, saya tinggal bersama ibu dan adik laki-laki saya”, jawab Ifa. “Maaf tapi ayah kamu?”, tanya pemuda itu. “Ayahku sudah hampir enam tahun ini sudah tidak menyertaikami, Tuhan lebih menyanyangi dia”, jawa Ifa.

Mereka bertiga tampak asyik ngobrol yang awalnya hanya buku jadi melebar kemana-mana, Maya yang sedari tadi keliling sedang mencari mama dan kakaknya. “Ma, dah dapat apa yang mama cari?”, tanya Maya. “Sudah, dari tadi mama menemani dan memperhatikan kakakmu yang pengen cari buku sendiri”, jawab mama. “May, ini Ifa, dan Ifa ini Maya adikku yang paling cantik….hehehee..”, kata sang kakak. Mereka lantas berkenalan. “Maya catik yaaa..”, kata Ifa. “Ahh..mba Ifa pasti karena ga enak sama kakakku..hehehee..”, seloroh Maya. “Engga koq kamu emang cantik May”, jawa Ifa. Maya hanya tersenyum dengan seyuman khasnya yang menampilkan lesung di pipinya.

Pemuda itu janjian untuk bertemu lagi dengan Ifa minggu depan di Gramedia, tampaknya pemuda itu ingin berkenalan lebih dekat dengan perempuan berparas cantik manis itu. Menurutnya siapa yang tidak tergoda oleh kecantikannya, pasti hanya orang dungu. Mama sepertinya tau benar apa yang ada dibenak anaknya itu.

****************************

Beberapa bulan kemudian…

****************************

Perasaan pemuda itu berbunga-bunga ketika munggu balasa short message service (sms) dari Ifa, malam itu dia masih belum bisa tidur dan bertanya-tanya terus dalam hatinya, kemana dia dan sedang apa dia. Kebiasaannya ber sms ria membuatnya makin ketergantungan dengan Ifa, seakan Ifa adalah separuh dari semangat hidupnya, satu jam kemudian ponselnya berdering dan menyanyikan lagu kesukaannya. “Haloo..assalamualaikum” jawab pemuda itu. “Waalaikum salam mas, lagi apa….? koq belum tidur?”, kata suara Ifa diseberang sana, hatinya berdegub kencang, alamaakk sms yang ditunggu ternyata telpon yang datang gumamnya.

“Lagi baca buku sambil nunggu sms dari kamu Fa, kamu sendiri baru pulang atau sudah tidur tadi?”, jawab pemuda itu. “Maaf aku dah tidur mas, kecapean hehehehee.., gimana keadaan mas hari ini? semangat ya mas, jangan terlena oleh keadaan, tetap sadar ok”, kata Ifa. “Insyaallah Fa, mas tetap sadar dan ingat pada keadaan”.

Mereka ngobrol ngalor ngidul lagi, sambil sesekali tertawa cekikikan, “mas sudah malam, tuh dah jam sebelas, mending mas tidur aja, biar besok segar lagi, aku juga dah mau tidur, besok kita sambung lagi yaa, besok aku banyak kerjaan di kantor”, kata Ifa, “iya Fa, mas juga sudah ngantuk nih, sampai besok ya Fa, assalamualaikum”, kata pemuda itu. “waalaikum salam mas”, jawab Ifa sambil mematikan ponselnya.

Ifa memang orang yang baik, keadaannya saja yang tidak baik. Ifa adalah anank tunggal yang harus mencukupi kebutuhan orangtuanya yang hanya tinggal ibunya. Ibunya hanya penjual kue yang biasa dititipkan ke warung-warung dekat rumah. Ifa terbiasa hidup dalam keadaan terbatas, tapi tidak menjadikan mimpi dan cita-citanya menjadi terbatas.

Dia tau betul mimpi dan harapannya tidak boleh dibatasi, pembatasan hanya mengkerdilkan sikap. Dia ingin berbakti pada ibunya, perempuan tua yang pernah mengeluarkan diri dia dari rahimnya, belum lagi bagaimana mereka (ayah dan ibu) bersusah payah untuk menjaga hingga besar kini, sebenarnya Ifa punya kakak, tapi dia meninggal dalam kecelakaan di kereta api beberapa tahun lalu. Ifa adalah sosok perempuan yang tercerahkan dan termotivasioleh lingkungan dan keadaan, Ifa selalu belajar dari para pembesar, menurutnya dia adalah pemulung ide.

Pagi itu seperti biasa Ifa yang sudah sibuk sejak pagi buta membantu ibunya, sedang bersiap-siap pergi bekerja, sebelum berangkat dia menuliskan sms kepada pemuda itu untuk tetap semangat dengan hari-harinya dan hubungi dia selam jam kerja, karena dia paling tidak suka diganggu oleh urusan pribadi di kantor. Hmm..memang sosok yang unik, sebagian besar perempuan tetap ingin keep contact tapi Ifa sebaliknya, urusan pribadi lebih baik dirumah saja menurutnya.

Sore hari pemuda itu ijin pada mamanya dan pergi dengan mobilnya menuju suatu tempat yang pernah dia kunjungi pertama kali sejak broken heart dengan Maria. “Assalamualaikum…” kata pemuda itu didepan rumah orang tua yang terkenal bijak itu. “Waalaikum salam…apa yang membawamua kemari nak”, kata orang tua yang sedang asyik menikmati sore dengan secangkir teh tawa hangat dan singkong goreng.

“Aku mampir untuk mengucapkan terimakasih, aku sadar kalau cinta adalah sebagaimana aku menjadikannya, cinta itu unik ya pak, maafkan sikapku dulu yang selalu membantah petuah bapak”, kata pemuda itu. “hehehehee..ooh jadi kamu sudah tercerahkan yaa? hidup membutuhkan lebih banyak persediaan sikap. Karena sikap yang menuntun kita untuk memutuskan, ngomong-ngomong kamu sedang jatuh cinta lagi yaa ha?” canda pak tua.

“Ya, aku baru bertemu gadis yang sanggup membuatku berani dan percaya kalau aku bisa menitipkan separuh dari semangatku di sana. Dia perempuan yang ideal, aku mengaguminya, keadaannya memang terbatas, tapi dia tidak pernah terbatasi”, jawabnya. “hehehehee…dia perempuan yang tangguh ya? lalu?”, tanya pak tua. “Aku menyukainya, tapi aku ngga tau apakah dia suka padaku”, kata pemuda itu.

“Saat ini kamu seperti ponsel di Roxy Mas, seseorang akan membeli ponsel itu kalau bagus, benefitable, dan menarik hatinya. Saranku jadilah ponsel yang terbaik dan dan menudukung citra orang yang membelinya”, jawab pak tua. “Maksud bapak apasih?”, tanya pemuda itu heran. “Pantaskan diri kamu untuk menarik perhatiannya, jangan menuntut kepastian dari dia, kamu yang harus membangun kepastian dalam diri kamu”, jawab pak tua.

“Putuskan, bahwa kamu memiliki keberanian untuk menjadi pantas dan pasti bagi orang lain”, sambungnya. “ya..ya.., aku memang tidak terlalu yakin pada diriku sendiri, mulai saat akan kubangun kepantasan dan kepastian dariku buat orang lain”, jawa pemuda itu.

Pak tua menawarkan minuman yang disajikan oleh istrinya yang tetap dicintai walau sudah sama tuanya, “silahkan diminum, ada beberapa potong lagi singkongnya”, kata pak tua sambil menghisap rokoknya. “Terimakasih untuk minumnya, aku sudah sarapan di rumah tadi”, jawab pemuda itu sambil menyuruput teh hangat yang terasa tawar, hmm…apa keluarga ini takut kena diabetes yaa, semua minumannya dari dulu hanya tawar…gumam pemuda itu dalam hati. “Kami selalu menjaga diri dari gula yang berlebihan, kami sudah tua-tua, lagipula kan ngirit kalau minum tanpa gula..hehehe….”, kata pak tua yang seolah tau apa yang dipikirkan pemuda itu, lho bagaimana bapak ini tau kata pemuda dalam hati. “Iya aku setuju, hidup dan mengambil sikap yang cukup dan wajar adalah pilihan terbaik dari pada harus berlebihan kan?”, tanya pemuda itu. “hehehehee…kamu makin bijak nak, yaa memang orang yang sedang jatuh cinta semuanya jadi romantis dan indah…”, canda pak tua.

Setelah berbincang untuk beberapa lama, pemuda itu pamit untuk pulang karena matahari sudah enggan untuk menyinari bumi belahan dimana pemuda itu ada. “Aku permisi ya pak, tolong doakan saya supaya segera berubah, saya janji akan berubah”, kata pemuda itu. “Doaku akan jadi spirit buat kamu nak, hati-hatilah di jalan, jangan sampai terulang insiden itu”, jawab pak tua.

Pemuda itu keluar dari hadapan orang tua itu menuju mobilnya, sambil terus heran bagaimana dia tau semua apa yang dialaminya. Huhh…sungguh misterius pak tua itu.

****************************


Beri tanggapan

Your response:

Kategori